Gereja Membutuhkan Seorang Pemimpin Yang Pelayan,

Bukan Pemimpin Yang Penguasa

Oleh Pdt. Pandu Wiguna Bone, M.Th

Pendahuluan

Kepemimpinan atau leadership merupakan hal yang terpenting dalam suatu lembaga atau persekutuan. Kepemimpinan dianggap sebagai faktor penentu dalam kesuksesan kerja. Maju mundurnya suatu organisasi banyak dipengaruhi oleh kepemimpinan. Ada beberapa alasan mendasar mengapa kepemimpinan itu sangat penting. (Tomatala, 5-8)

1. Dimana ada kehidupan berkelompok, di situ kepemimpinan dibutuhkan untuk menata mekanisme kehidupan bersama di dalam kelompok tersebut.

2. Adanya pekerjaan bersama dalam kehidupan kelompok menuntut perlunya kepemimpinan.

3. Pembentukan organisasi dan hakekat organisasi formil di dalam masyarakat membutuhkan kepemimpinan.

4. Adanya penugasan khusus untuk dilaksanakan sebagai suatu kelompok kerja ( task force/team work ) membutuhkan adanya kepemimpinan

Arti Kepemimpinan

Arti kepemimpinan sangat bervariasi dan bergantung dari sudut pandang orang melihatnya.

1. Kepemimpinan adalah sebagai fokus dari proses kehidupan kelompok . Pemimpin cenderung dilihat sebagai fokus suatu perubahan, aktivitas dan proses dari kehidupan suatu kelompok. Dengan definisi ini, pemimpin ditempatkan di atas atau di depan kelompoknya.

2. Kepemimpinan adalah sebagai personalitas dan efek-efeknya . Terlihat, bahwa orang ternyata lebih baik dan lebih mampu daripada yang lain dalam peranan kepemimpinan. Pemimpin adalah seseorang yang mempunyai beberapa sifat bawaan sangat baik yang diperlukan untuk personalitas dan karakter. Jadi seorang pemimpin itu dilahirkan sebagai pemimpin.

3. Kepemimpinan adalah sebagai seni penyebab terwujudnya pemenuhan pencapaian . Penekanan di sini adalah kesanggupan si pemimpin untuk menangani kelompok dalam mencapai tujuan tanpa adanya pergesekan serta kerjasama. Bahaya kepemimpinan seperti ini ialah adanya kecenderungan ke arah kepemimpinan otoriter yang tidak menghargai hak, keinginan dan kebutuhan anggota kelompok.

4. Kepemimpinan adalah sebagai pelaksanaan pengaruh . Kepemimpinan disini dilihat sebagai “proses pengaruh” yang secara khusus menekankan tentang kepemimpinan yang melaksanakan “efek yang telah ditetapkan sebelumnya yang diarahkan dalam menggerakkan sikap dan kegiatan anggota-anggota kelompok.” Pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mengubah perilaku anggota. Peranan dan tanggung-jawab bawahan disepelekan.

5. Kepemimpinan adalah sebagai suatu kegiatan atau perilaku terarah . Tindakan kepemimpinan menyebabkan adanya kegiatan atau respon ke arah yang sudah dijabarkan bersama.

6. Kepemimpinan adalah sebagai suatu bentuk persuasi .

Kepemimpinan Kristen

Kepemimpinan Kristen adalah “Suatu proses terencana yang dinamis dalam konteks pelayanan kristen (yang menyangkut faktor waktu, tempat dan situasi khusus) yang didalamnya oleh campur tangan Allah, Ia memanggil bagi diri-Nya seorang pemimpin (dengan kapasitas penuh) untuk memimpin umat-Nya (dalam pengelompokan diri sebagai suatu institusi/organisasi) guna mencapai tujuan Allah (yang membawa keuntungan bagi pemimpin, bawahan dan lingkungan hidup) bagi dan melalui umat-Nya, untuk Kerajaan-Nya” (Tomatala, 43)

Bukan rahasia lagi, bila kepemimpinan di gereja, dalam pelaksanaannya sering disamakan dengan kepemimpinan pemerintahan. Pimpinan dianggap sebagai penguasa, pelayanan diartikan sebagai kuasa. Jabatan gerejawi disamakan dengan posisi yang memberi banyak kesempatan dalam memperoleh sesuatu. Tentu saja akibatnya sama saja dengan yang ada dalam negara kita. Praktek kolusi, korupsi dan nepotisme berlangsung dengan selubung rohaniah. Kemudian kita biarkan itu berlangsung tanpa ada usaha memperbaikinya dengan dasar “kasih”.

Memimpin dapat berarti memerintah, tetapi memimpin tidak identik dengan memerintah. Memimpin lebih luas daripada memerintah. Memerintah hanya mempunyai satu garis tegas, garis komando: harus dilaksanakan! Ada unsur pemaksaan. Sedangkan memimpin ada unsur kebersamaan. Memimpin tidak bersifat tunggal, melainkan tim kerja, ada kawan sekerja yang mendampingi.

Yesus memberi dasar yang jelas tentang kepemimpinan Kristen. (Mark.10:42-44 dan Luk. 22:25-26) Kepemimpinan adalah pelayanan. Pelayan adalah hamba, budak. Konotasinya rendah, tetapi kata itulah yang digunakan Yesus untuk menggambarkan tugasnya. Menjadi pemimpin di gereja (Bishop, Distrik Superintenden, Pendeta, Guru Injil, Majelis, anggota Komisi atau Panitia) sebenarnya merupakan suatu kehormatan, sebab Allah berkenan menjadikan kita sebagai “kawan sekerja Allah” (I Kor. 3:9) Tetapi serentak dengan kesadaran akan istimewanya itu, harus juga disadari akan ucapan Yesus, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat. 16:24).

Pola pelayanan seperti inilah yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. “Ia (Yesus) harus semakin besar, tetapi aku harus semakin kecil.” (Yoh. 3:30) Padahal menurut Yesus, “Di antara mereka yang dilahirkan perempuan tidak ada seorangpun yang lebih besar daripada Yohanes, ....(Luk.7:28) Karena itu dalam Alkitab,

pertumbuhan dan perkembangan seorang pemimpin gereja tidak ditandai oleh bagaimana pemimpin itu makin “hebat” dan semakin “penting”, melainkan ditandai oleh bagaimana pemimpin itu semakin menyangkal dirinya sendiri dan membiarkan dirinya dipimpin oleh Tuhan.

(Lih. Yoh. 21:18 ) Menyangkal diri berarti menyatakan TIDAK terhadap selera dan ambisi pribadi, melainkan YA terhadap selera dan kehendak Yesus (band. Gal. 2:20) Memikul salib berarti harus siap menghadapi segala konsekwensi dari pelayanan karena Nama Yesus, yaitu menderita. Sekali lagi: menderita karena Yesus, bukan karena kesalahan atau kebodohan diri sendiri. Mengikut Yesus, berarti hanya memandang kepada Yesus sebagai satu-satunya tokoh yang harus diikuti, ditaati dan dicontoh. Menjadi pengikut Yesus berarti bukan menjadi pengikut manusia. Tugas Pendeta/Guru Injil/Majelis sebagai pemimpin bukanlah menjadikan orang lain sebagai pengikutnya, melainkan pengikut Kristus!

Banyak gereja di Indonesia dilanda kemelut oleh karena para pelayannya menjadi pengikut manusia. Kemelut yang terjadi di jemaat Korintus (I Kor. 1:10 -17) terulang kembali di banyak jemaat di Indonesia . Hal ini harus benar-benar kita waspadai agar tidak terjadi pada jemaat dan diri kita.

Rasul Paulus tidak pernah meminta agar orang menjadi pengikutnya. Juga tidak kepada Timotius, anak angkatnya. II Tim. 3:10 haruslah dimengerti bukan sebagai permintaan Paulus, melainkan merupakan ucapan syukur, sebab Timotius sudah mengikuti keteladanan cara hidup dan pelayanan Paulus. II Tim. 4:3-4 memberi penjelasan kepada kita tentang sikapnya. Manusia senang mendengar hal-hal yang menyenangkan dirinya saja, yang cocok, yang seide, segolongan dengan dirinya saja. Hal itu hanya menyenangkan telinga dan hati. Paulus datang ke Korintus bukan untuk memuaskan keinginan jemaat yang suka akan hikmat duniawi, melainkan hanya bersandar pada kekuatan Roh (I Kor. 2:1-5)

Mengikuti keteladanan tokoh Alkitab, Bapak gereja atau salah satu pemimpin yang kita kagumi itu tidak salah. Akan tetapi janganlah kita menjadikannya sebagai satu-satunya model, yang menjebak kita menjadi fanatik dan meninggalkan pikiran yang sehat. Keteladanan mereka tidak boleh melebihi keteladanan yang Yesus buat bagi kita semua. Yesus sudah memberi teladan bagi kita dalam pelayanan

“bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa” (Mat. 20:28) “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Guru-mu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:14-15) Kita sering melupakan keteladanan ini. Kalaupun ingat, sering hanya terbatas pada pemahaman saja dan tidak sampai pada tindakan.

Kita lebih senang dengan keteladanan Yesus sebagai Raja, sebagai Penguasa; mampu mengadakan mujizat, menyembuhkan yang sakit, mengajar dan memerintah. Kita senang meniru keteladanan ini, sebab sebagai raja atau anak raja, penguasa, sangat dihormati dan dihargai. Kita senang dihormat. Kita mendambakan penghargaan orang dan rindu untuk mempunyai kuasa seperti Yesus. Keteladanan Yesus sebagai Hamba yang menderita sering kita abaikan. Kita lebih suka mengikuti keteladanan yang hebat, yang spektakuler, yang megah.

Orientasi pelayanan Yesus kepada orang miskin, yang lemah, yang tertindas kita ganti dengan orientasi pelayanan kita kepada yang berkuasa, yang kaya, yang kuat dan yang berkedudukan. Tentu saja tidak berarti yang kaya, yang kuat dan yang berkedudukan tinggi, tidak boleh dilayani. Semua harus dilayani. Hanya yang perlu diperhatikan adalah motivasinya. Berpihak kepada penguasa, pejabat, yang hebat itu lebih aman bagi diri dan posisi. Mengamankan posisi dan diri demi “hidup tidak menderita” bukanlah keteladanan yang Yesus berikan. Bukankah Yesus telah mengosongkan diri-Nya, meninggalkan posisi-Nya, rela menderita, bahkan mati disalib, demi manusia yang berdosa (Fil. 2:5-8).

Inilah keteladanan pelayanan yang harus ada pada diri setiap orang yang mengaku dirinya sebagai pelayan atau hamba Tuhan, atau yang mengaku “sedang melayani Tuhan”. Banyak orang yang mau “melayani” tetapi sedikit yang mau menjadi pelayan. Yesus tidak mengajarkan melayani sebagai penguasa, melainkan sebagai hamba. Karena itu benarkah seseorang itu terpanggil untuk melayani atau hanya ingin menyatakan ambisi pribadinya. Pelayanan sebagai pelayan adalah panggilan Allah.

Perhatikan panggilan para Nabi di Perjanjian Lama dan para Rasul di Perjanjian Baru. Mereka semua menjadi pemimpin bukanlah karena mereka berambisi menjadi pemimpin, melainkan karena Allah memanggil mereka untuk memimpin dengan cara melayani, berkorban dan hanya mementingkan kepentingan orang lain!

Pola kepemimpinan ala dunia adalah, kalau dia berhasil, maka dia makin sibuk. Kalau makin sibuk, maka makin sulit dihubungi. Kalau makin sulit dihubungi, maka makin jarang bertemu dengan orang-orang yang dipimpinnya. Ironisnya, ada pemimpin supaya kelihatan “hebat dan sibuk” maka mempersulit orang-orang yang ingin menemuinya.

Alkitab tidak menyodorkan pola yang demikian. Musa, walaupun sangat sibuk, tetap bersama dengan umat Allah yang dipimpinnya. Ekses memang ada. Karena itu Yitro, mertuanya, memberi nasehat agar dia merekrut orang-orang lain yang mampu dan takut akan Allah , dapat dipercaya dan yang benci kepada pengejaran suap , untuk menolongnya. (Kel. 18) Yesus selalu bergaul dengan rakyat jelata, bahkan orang berdosa, walaupun Dia adalah seorang Rabbi. Dia tidak tinggal diam di kantor di Bait Allah dengan menunggu orang-orang untuk berkonsultasi.

Seorang pemimpin hendaknya mempunyai tim kerja dimana anggotanya mempunyai kemampuan yang sesuai dengan tugas pelayanan. Mereka merupakan suatu tim yang saling menopang dan membantu sehingga tidak ada yang “lebih hebat dan lebih penting”. Saling menopang dan membantu dalam melayani bukan dalam hal memperkokoh posisi suatu jabatan!

Kepemimpinan di GMI - Refleksi Pribadi

Gereja membutuhkan pemimpin, bahkan banyak pemimpin. Pemimpin tingkat nasional, daerah, lokal dan kategorial (Bishop, District Superintendent, Pimpinan Jemaat, Ketua Badan, Komisi, Panitia, dll) Pertanyaannya, atas dasar apa para pemimpin tersebut dipilih atau diangkat?

Penting untuk diingat, bahwa Allah yang memanggil orang2 untuk memimpin. Rapat2 dan Konferensi hanya merupakan alat untuk menentukan (Kisah 1:15 -26; 6:1-6) tetapi strategi dan metodenya adalah DOA. Syarat: “terkenal baik, penuh Roh dan hikmat” (Kisah 6:3) Lihat juga I Tim 3:8-13 dan Titus 1:5-16

Gereja seharusnya tidak lalai dalam usaha pengkaderan yang terencana. Kita tidak boleh melakukan pengkaderan yang berbau nepotisme dan kolusi, apalagi korupsi! Tuhan Yesus menolak dengan tegas adanya nepotisme dan kolusi! (Mat. 20:20-28) Pengkaderan hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan, kualitas kader dan dana serta kesempatan. Kalau kita membutuhkan DS, apakah sudah dipersiapkan para pendeta untuk tugas tersebut? Senioritas saja tidak menjamin. Kemampuan pastoral saja tidaklah cukup. Sesuai dengan tugasnya, dia harus diperlengkapi dengan kemampuan managerial, selain hati dan kerohanian yang “baik”. Kita membutuhkan dosen2, Puket, Ketua di Universitas dan STT. Atas dasar apa pemilihan pengkaderan tersebut?

Peningkatan ketrampilan dan intelektual merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditawar lagi. Perkembangan Iptek dan bidang-bidang lainnya maju dengan pesat. Apabila kita tidak mengikuti perkembangan jaman, maka kita akan “tu la lit” seperti yang diiklankan di TV. Membaca buku haruslah menjadi menu utama setiap hari para pelayan dan mengikuti seminar-seminar dapat menjadi “obat kuat” yang menambah vitalitas dalam pelayanan.

Peningkatan ketrampilan dan intelektual tidak identik dengan pencapaian gelar formal. Apa artinya memiliki gelar formal, tetapi ketrampilan dan pengetahuannya tidak bertambah dan tidak mempengaruhi kualitas pelayanannya. Orang mungkin pada awalnya akan silau melihat gelar Master atau Doktor, tetapi pasti akan mencibir bila menyaksikan sikap dan kata-kata serta mutu pelayanan orang itu tidak sebanding dengan gelar yang disandang. Bukan rahasia lagi bila di gereja banyak orang berlumba mendapat gelar tetapi sedikit yang berlumba untuk mengasah dan menambah ketrampilan dan pengetahuannya.

Lebih menyedihkan lagi ternyata ada lembaga pendidikan gereja yang menyodorkan kemudahan2 untuk mendapat gelar tanpa memberikan pendidikan dengan kualitas akademis yang sesuai dengan gelar yang disodorkan. Kalau demikian situasinya, tidak aneh bila ada seorang “Hamba Tuhan” tersinggung sebab “gelar akademis”nya tidak disebut atau tidak dicantumkan di Buletin Gereja pada saat dia berkotbah. Rupanya sang “Hamba Tuhan” lupa bahwa dia sedang berkotbah, memberitakan Firman Tuhan, bukan sedang berceramah atau memberikan kuliah!

Rasul Paulus saja (yang pasti lebih hebat dari kebanyakan kita semua) menganggap “sampah” semua itu dibanding dengan Kristus. Yesus saja yang gelarnya lebih tinggi dari langit, “Anak Allah” mau merendahkan diri, tidak menganggap kehebatannya itu sebagai hal yang harus dipertahankan, malah dia mengosongkan dirinya sebagai manusia, hamba, rela disamakan dengan manusia berdosa. (Filipi 2:6-8) Tapi kita sebagai “Hamba Tuhan” malah mau meninggikan diri hanya dengan gelar yang seringkali hanya dibeli dan bukan diperoleh dengan kemampuan akademis! Ironis memang!

Gereja membutuhkan pemimpin, bukan penguasa. Yesus berkata, “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa2 memerintah bangsanya dengan tangan besi, dan pembesar2nya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu….” (Mark. 10:42-44) Itu berarti gereja membutuhkan pemimpin sebagai pelayan, bukan pemimpin sebagai penguasa. Jabatan di dunia atau dalam perusahaan adalah jabatan yang harus diraih, dicapai dengan segala daya dan usaha agar kita menjadi mapan dalam kerja, posisi dan karir. Semua karyawan pasti ingin dan berusaha dengan segala cara untuk meraih posisi puncak.

Demikian juga dalam partai politik. Setiap kader partai akan berusaha untuk mencapai top position. Tidak demikian dalam pelayanan yang Yesus contohkan. “Barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah dia menjadi hamba untuk semuanya” (Mark. 10:44 ) Jabatan dalam Gereja bukanlah jabatan yang harus diraih melainkan jabatan yang Tuhan Allah berikan. Karena itu tidak perlu berkampanye untuk menjadi DS atau menjadi Bishop! Tidak ada satupun contoh dalam Alkitab yang menceritakan seseorang berkampanye untuk menjadi pemimpin.

Tuhan Allah yang memanggil! Sama seperti Yesaya menjawab, “Ini aku, utuslah aku” (Yes. 6:8). Dia berani menjawab setelah diperhadapkan dengan panggilan Allah. Tapi seringkali kita seperti syair lagu dari Maluku, “belum dipanggil sudah manyaut”! Karena itu satu2nya strategi yang pas adalah DOA sebagai jawab atas panggilan Allah. Bukan dengan mengusahakan sebanyak2nya “orang kita” ke konferensi! Kalau demikian apa bedanya kita dengan Parpol?

Gereja ada di dunia agar menggarami dunia ini, sebab Yesus bersabda, “Kamu adalah garam dunia” (Mat 5:13 ). Sejalan dengan itu Rasul Paulus memberi nasehat (yang kita percayai juga sebagai Firman Tuhan), “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga …. (Roma 12:2) Tetapi sangat menyedihkan sekarang, dunia sudah “menggarami” gereja, sehingga cara2 dunia, cara2 Parpol kita pakai. Kalau waktu yang lalu semua Partai Politik berkampanye, semua calon Presiden dan calon Wakil Presiden berkampanya (itu sah2 saja menurut aturan dunia), gereja kini menggunakan cara2 tersebut.

Bahkan ketika semua capres dan cawapres membentuk Tim Sukses, kini sudah dicontoh oleh calon pemimpin gereja! Sebagai gereja kita harus bertobat, bila tidak, akan terjadi kekacauan seperti yang terjadi di negara kita. Bukankah setelah terpilih Presiden dan Wakilnya, parpol pendukung dan anggota Tim Sukses meminta “jatah” posisi? Bukankah itu juga salah satu penyebab, korupsi masih terus berlangsung dan para koruptor besar masih berkeliaran? Bukankah sebab utama terjadinya kerusuhan di DPR dan tidak mulusnya dukungan terhadap pemerintahan sekarang, karena ada yang tidak mendapat “jatah”? Muncul oposisi, berderap barisan “Asal Jangan ABC”. Perhatikanlah kemelut2 yang terjadi di pemerintahan kita dan di Parpol-parpol sekarang. Apakah kita rela kemelut semacam itu terjadi di GMI?

Apabila kita berkampanye untuk suatu jabatan, berarti kita tidak pede, tidak yakin tentang panggilan Tuhan untuk tugas tersebut, tetapi dengan terus berkampanye itu, kita menyatakan diri sebagai orang yang ambisius dalam jabatan. Biasanya kalau sudah demikian, pasti ada sesuatu yang ingin diraih demi keuntungan pribadi walau dibungkus dengan “rohani” dan “demi pelayanan dan perbaikan atau pertumbuhan gereja”. Situasi akibat Kampanye2 yang terjadi di negara kita sudah membuktikan itu.

Apabila kita membentuk Tim Sukses, pasti sedikit banyak akan terjadi “pembagian jatah” jabatan dan posisi tertentu. Kalau sudah demikian tidak mungkin the right person in the right place , melainkan siapa lebih dekat kepada penguasa, siapa yang lebih berjasa dalam menggolkan tujuan, siapa yang lebih banyak mengeluarkan biaya, itulah yang terpilih untuk menduduki suatu jabatan tertentu. Apabila ada di antara Tim Sukses yang terlupakan atau tidak puas dengan jatahnya, akan muncul “Barisan Sakit Hati” atau kita dengar, “orang itu sudah pecah kongsi”. Bukankah kalau kita mau jujur sejarah bangsa dan sejarah gereja sudah membuktikan itu?

Kampanye dan Tim Sukses yang menghantar kita jadi “sukses” akan membuat kita seolah hidup dalam gelimangan kemenangan dan pada akhirnya nanti kita akan mengalami Post Power Syndrome . Sebaliknya apabila gagal, itu akan terasa menyakitkan. Tidak ada seorangpun yang ingin hidup sambil membawa “sakit hati”. Jangankan 4 tahun, seharipun terasa seminggu! Sakit hati yang dipelihara akan menghasilkan dendam. Dendam yang membara bertahun akan mencari solusi balas-dendam. Siklus akan berulang bila tidak dipatahkan.

Gereja ada di dunia untuk memuridkan sekalian bangsa (Mat. 28:16-20) Tugas setiap orang percaya adalah mengabarkan Injil. Bahkan Methodist punya motto Every Methodist is an Evangelist. Itu berarti menjadikan mereka murid Kristus, pengikut Kristus. Kita semua, termasuk para pemimpin gereja adalah pengikut Yesus. Kami sangat sedih mendengar berita, ada yang bertanya dan menyatakan “Kalau Pa Bone bersedia, biarlah nanti pengikut Pa Bone memilih Bapak A, dan pengikut Bapak A memilih Pak Bone”. Sejak kapan Pak Bone mempunyai pengikut? Kami sejak pertamakali mengajar di ITA Bandar Baru tahun 1983 sudah mengatakan kepada para mahasiswa, “Jangan menjadi pengikut manusia, jangan jadi pengikut Pak Bone atau siapapun. Dengarkan dan ikuti nasehatnya kalau itu benar. Contoh perbuatannya kalau itu baik. Kalau tidak, jangan ikuti!” Tidak demikian dengan para “pengikut”. Baik atau tidak baik sebagai pengikut harus mengikuti. Perpecahan akan terjadi seperti di jemaat Korintus yang mengkotak-kotakkan diri menjadi golongan-golongan seseorang. Jangan membangun kerajaan sendiri dengan menebar pengaruh melalui segala cara kepada banyak orang dan menjadikan mereka pengikut. Bangunlah Kerajaan Allah, maksudnya bekerjalah, melayanilah bagi Kerajaan Allah. Jangan mencuri kemuliaan Allah.

Kita semua adalah hamba Tuhan. Hanya kita berbeda tugas dan talentanya. Sebagai hamba hanya bertugas untuk menyenangkan hati Tuhan Yesus sebagai Raja Gereja, sebagai Tuan, Majikan kita. Dialah yang menentukan pekerjaan pelayanan di gereja, bukan orang yang telah “berjasa” kepada gereja, atau orang yang telah mengeluarkan banyak uang untuk gereja. Pada saat kita membiarkan diri diperintah oleh orang yang banyak uang, pada saat pelayanan kita hanya ditentukan oleh orang yang banyak uang, pada saat pikiran, keputusan kita ditentukan oleh banyaknya uang yang kita terima dari seseorang, maka sesungguhnya kita telah menjadi hamba uang! Alangkah hinanya kita bila keputusan kita hanya ditentukan oleh “ongkos jalan dan uang makan”. Lebih berdosa lagi mereka yang membuat orang2 lugu itu menjadi berdosa. Kita semua butuh uang karena masih hidup di dunia yang menggunakan uang, tetapi jangan diperbudak oleh uang. Sebaliknya gunakan uang untuk memuliakan Tuhan. Akar segala kejahatan bukanlah uang, melainkan cinta akan uang. (I Tim 6:10). Rasul Paulus sudah menubuatkan, pada masa yang sukar orang akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang (II Tim. 3:2). Bukankah sebagai hamba kita ini milik Kristus? Dengan demikian semua uang dan harta yang ada pada kita adalah milik Kristus. Kita hanya sebagai bendahara atau steward saja. (Luk. 16:1-9)

Penutup

Tulisan ini dibuat bukan dengan maksud mempermalukan seseorang. Tidak disusun berdasarkan kebencian atau maksud menjatuhkan seseorang. Tulisan ini dibuat untuk mengajak semua warga GMI memikirkan dengan jujur dan setia dihadapan Tuhan, bagaimana kita dapat memberikan yang terbaik bagi GMI. Sebagai hamba Tuhan kami tidak boleh dan terus berusaha untuk tidak membenci seseorang, tetapi yang dibenci adalah kejahatan atau perbuatan yang tidak baik. (Maz. 45:8; 97:10; Ams.8:13; Ibr. 1:9)

Kalau ada yang tersinggung dengan tulisan ini, berarti tulisan ini bermanfaat dan marilah kita bertobat di hadapan Tuhan. Mengakui kesalahan dan bertobat tidak akan meruntuhkan wibawa kita. Nehemia sudah membuktikan itu. (Neh. 5) John Wesley juga sudah mengalaminya. Kita semua, termasuk saya, harus memikir ulang motivasi, paradigma pelayanan kita. P erlu adanya pembaharuan dalam sikap dan tindakan para pemimpin yang melayani dalam jabatan-jabatan tertentu. Pembaharuan itu bukan hanya dalam tutur kata, tetapi benar-benar dalam bertindak, dalam sikap yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain, terutama oleh orang-orang yang dipimpinnya. Kita semua adalah Hamba Tuhan yang dituntut Tuhan untuk tetap setia berkata, berfikir dan berbuat sebagai hamba-Nya.

[ return ]