|
HIDUP JOHN WESLEY DAN CIRI-CIRI KHAS PELAYANAN METHODIST oleh : Pdt. Dr.D.F. Walker Tepat sekali kalau suatu pembahasan tentang theologia John Wesley dimulai dengan memandang ciri-ciri khas pelayanannya. Pada zamannya, John Wesley dikenal sebagai pengkhotbah yang menginjili dan melayani di mana-mana. Dia tidak dikenal sebagai ahli dalam theologia; namanya mungkin tidak disebutkan dalam daftar orang-orang ternama dalam bidang theologia yang bersifat akademis pada waktu itu. Berhubungan dengan fakta ini, ada tiga catatan yang perlu ditambahkan dan harus kita ingat. Yang pertama, sering didengar/ dibaca pandangan orang dari tradisi lain (Calvinis, Lutheran, dsb), bahkan dari orang Methodist juga, bahwa Wesley sebenarnya bukan ahli dalam theologia, bahwa dia seorang penginjil, yang giat, rajin, tetapi pemikirannya agak dangkal. Jadi, katanya, kurang penting untuk perhatian kita sekarang ini. Barangkali pandangan ini timbul oleh karena tidak ada satu karangan Wesley yang luas seperti Institutio oleh Calvin. Catatan kedua tentang tujuan theologia adalah begini: John Wesley tidak bermaksud memberikan suatu theologia yang baru. Tetapi dia mau menerapkan theologia yang sudah ada, lebih-lebih theologia tradisinya sendiri, yaitu theologia Anglikan. Sedapat mungkin definisi-definisi dikutip dari pengajaran Anglikan dan dihubungkan dengan ajaran Alkitab. Dengan demikian Wesley bermaksud menekankan pokok-pokok theologia Anglikan yang tidak begitu diperhatikan pada masa itu. Andaikata Wesley mendengar istilah kita " theologia Wesley", dapat dipastikan bahwa dia akan kurang senang. Tidak mungkin ada theologia benar yang lain daripada theologia Alkitab. Maksudnya hanya untuk menjelaskan bagaimana theologia yang praktis di dalam Alkitab diteruskan dalam ajaran tradisi Anglikan. Sekarang, katanya, theologia praktis ini harus terbuka dan diberitakan kepada semua. Catatan kita yang ketiga adalah tentang istilah "praktis". Maksudnya "theologia yang praktis", bukan "theologia praktis" seperti yang ada di dalam kurikulum theologia di Indonesia, yaitu teori homilitika, teori penggembalaan dsb. Bagi Wesley , theologia praktis adalah theolgia keselamatan; apa yang praktis bagi setiap orang, apa yang perlu mereka sadari tentang dirinya sebagai orang berdosa, dan jalan keselamatan yang disediakan Tuhan Allah melalui Yesus Kristus. Inilah yang sungguh-sungguh "praktis", karena inilah yang menunjukkan arah jalan kita ke hidup yang kekal. Setelah pendahuluan ini, kami ingin menunjukkan beberapa faktor dalam pelayanan Wesley yang akan menolong kita mengerti situasi dan konteks perkembangan gerakan Methodist pada waktu itu. Mudah-mudahan faktor-faktor ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penilaian terhadap pelayanan gereja kita masa kini. Ciri-ciri khas yang kami anggap penting dalam pelayanan Wesley, bukanlah pokok-pokok theologia. Seperti kami katakan di atas, theologia Wesley bukanlah ajaran baru. Tetapi cara pelayanannya adalah baru. Satu kekhasan sifat Wesley sendiri membuka jalan bagi banyak segi perkembangan Methodist. Yang dimaksud ialah Wesley sendiri, terbuka, rupanya, untuk berubah. Pikirannya dapat berubah , dan dia berani mengubah tradisi dan kebiasaan dimana perlu. Memang tidak selalu demikian. Kepribadian Wesley sangat konservatif; dia menjunjung tinggi semua tradisi-tradisi gerejanya. Banyak kesulitan yang dia alami dalam pelayanan di Amerika dahulu, misalnya, disebabkan pandangan Wesley yang konservatif itu: semua peraturan gereja harus dilaksanakan dengan interpretasinya yang paling keras. Tidak ada kelonggaran untuk menimbang sikon-nya; semuanya diterapkan menurut apa yang tertulis dalam " adat"nya, yaitu buku Disiplin Gereja Anglikan. Setelah pembaharuan hidupnya di Aldersgate, Wesley tetap berjiwa konservatif. Kalau diadakan perubahan dalam pelayanannya, harus ada alasan yang logis, yang cukup meyakinkan. Tetapi yang paling penting ialah bahwa dia sungguh terbuka untuk mengubah cara pelayanannya. Dan ada alasan kuat yang baru: demi pemberitaan Injil kepada setiap manusia, dan demi pengembangan kekudusan dimana-mana. Tidak mudah Wesley berubah. Tetapi sekali dia diyakinkan tentang bentuk pelayanan yang baru, dia berubah dengan semua kekuatan dan semangatnya untuk menerima pembaharuan itu. Beberapa contoh dapat menolong kita mengerti sifat ini. Yang pertama , masalah berkhotbah di lapangan terbuka. Sulit sekali Wesley menerima cara ini. Sudah dimulai oleh temannya George Whitefield, dan ternyata berhasil. Whitefield terus membujuk Wesley untuk mengikutinya. Tetapi Wesley mau menolak; kurang khidmat, rasanya. Khotbah harus disampaikan dalam konteks ibadah di dalam gedung gereja, tempat yang telah ditahbiskan, dikhususkan untuk maksud ini. Mulai saat itu, John Wesley siap sedia memberitakan Injil dan berkhotbah di mana-mana: di lapangan terbuka, di pingir jalan, di rumah orang, bahkan di gereja, kalau ada yang masih terbuka bagi dia. Satu contoh yang lain dapat menjelaskan perubahan pelayanan yang drastis juga. Dalam Gereja Anglikan , dan di banyak tradisi lain juga tidak boleh berkhotbah kecuali dia sudah ditahbiskan, sudah menjadi pendeta, John Wesley mengikuti peraturan dan kebiasaan ini. Tetapi makin lama makin sibuk dia, bersama adiknya Charles, yang ditahbiskan juga, dan satu dari dua pendeta lain yang bersedia turut melayani gerakan Methodist itu. Orang-orang lain, kaum awam, boleh memberi bermacam-macam pengajaran, tetapi tidak diperbolehkan berkhotbah di dalam ibadah resmi. Cerita yang serupa juga terjadi. John Wesley segan membiarkan wanita berkhotbah atau memimpin. Gereja Anglikan melarangnya, dan kalau dipikirkan, tentunya kurang khidmat, kurang pantas, kata orang. Namun ada keperluan, dan ternyata bahwa Roh Allah memakai para wanita dalam pemberitaan Firman. Terpaksa Wesley mengakui bahwa mereka terpanggil dengan karunia-karunia yang sama, dan harus diterima dengan hak-hak yang sama juga. Pokoknya, John Wesley sendiri siap dan terbuka untuk berubah, demi pekabaran dan pelayanan Injil. Bahkan akhirnya , Wesley mengambil keputusan untuk menahbiskan orang menjadi pendeta. Tindakan ini jelas melanggar dasar-dasar peraturan Anglikan dan tetap merupakan masalah antara Methodist dan Anglikan sampai sekarang. (Seorang pendeta Methodist tidak boleh melayani di gereja Anglikan kecuali dia ditahbiskan kembali). Kekhasan pelayanan Wesley yang kedua ialah: Wesley ingin menjumpai orang dimana saja mereka berada. Injil adalah untuk seluruh umat manusia. (Perhatikanlah dalam syair-syair Charles Wesley, betapa banyaknya dipakai istilah-istilah: semua, segala, setiap, seluruh). Panggilan Wesley, dan panggilan kita, adalah untuk mencari mereka. Ciri ini tidak baru bagi kita, namun ada implikasi-implikasinya yang perlu diperhatikan. Bayangkanlah John sedang berkhotbah kepada kaum buruh pada pk.5.00 pagi, karena mereka harus masuk ke tambang batu bara pada pk.6.00. Pulang malam-malam, mereka letih. Jadi, kalau mereka akan mendengarkan Injil, terpaksa pagi-pagi, sebelum masuk kerja. Memang Wesley sudah bangun, umumnya pk.4.00. Tetapi dia lebih suka memakai waktu pagi-pagi ini untuk berdoa. Namun kalau ada orang yang harus mendengarkan Injil pada jam itu, Wesley siap melayaninya. Kapan saja, dimana saja, dengan cara bagaimanapun juga, Wesley ingin menyampaikan Kabar Baik itu. Jadi kebaktian-kebaktian di kelompok-kelompok Methodist tidak ditentukan jamnya. Tidak harus pk.9.00 atau pk. 11.00 pagi, jam apapun yang tradisional. Boleh jadi pk.10.00 malam, menurut keperluan setempat. Demikian juga tempatnya. Seperti yang dikemukakan diatas, Wesley siap berkhotbah dimana saja ada orang. Bahkan setelah ada banyak gedung-gedung pertemuan Methodist, masih dipakai tempat-tempat lain seperti lapangan terbuka dan rumah-rumah lain. (Perlu dicatat disini, pada zaman Wesley, gedung-gedung Methodist belum disebut "gereja", karena belum ada "Gereja Methodist". Untuk melayani kelompok-kelompok Methodist di seluruh kerajaan Inggris pada waktu itu, Wesley harus banyak berjalan, dan perjalanannya jauh. Semua pendetanya dan gurunya terpaksa berjalan juga. Mereka tidak boleh menetap di satu tempat. Menjadi pekerja Methodist berarti: berpindah-pindah. Sehingga istilah tradisional untuk pendeta Methodist adalah "pendeta yang berjalan" (traveling elder). Dengan sistem ini, korps pekerja Methodist mempunyai mobilitas yang luar biasa; di mana saja ada kesempatan untuk melayani, pekerja Methodist bisa diutus cepat. Boleh saja seorang pekerja mulai menetap, tidak berpindah-pindah lagi. Tetapi dia menjadi penkhotbah lokal saja; tidak lagi terhitung di dalam korps pekerja yang khusus. Pada zaman modern ini, sistem Methodist ini mendapat banyak tantangan, dan idealnya sering digeser, sehingga dapat ditanyakan berapa banyak pekerja kita yang sungguh-sungguh siap "berjalan". Mungkin sudah waktunya untuk memikirkan seluruh konsep ini. Apakah sistem ini sesuai dengan Kehidupan modern? Apakah perlu dibedakan golongan-golongan pekerja menurut kesanggupan/kerelaan berpindah? Bagaimana mobilitas gereja kita dapat dikembangkan pada sekarang ini? Yang terakhir ini adalah yang penting bagi Wesley. Pelayanan Methodist harus mempunyai mobilitas untuk memasuki ladang-ladang yang baru dengan cepat. Satu kekhasan lagi yang menjadi nyata dalam pelayanan Wesley: dia mencari orang-orang yang miskin. Mungkin ini bukan sasaran Wesley pada permulaannya, tetapi kenyataannya demikian. Yang masuk ke dalam kelompok-kelompok Methodist, pada umumnya, adalah golongan-golongan terendah, miskin dan tertindas di dalam masyarakat Inggris. Orang-orang di lapisan masyarakat yang lain tidak begitu memerlukan pelayanan Methodist, karena mereka sudah ada di Gereja Anglikan dan gereja-gereja yang lain. Di mana saja orang Methodist mengikuti panggilan John Wesley, ceritanya sama. Pemberitaan Injil menjadi Kabar Baik justru bagi orang yang tidak mempunyai harapan yang lain, orang-orang yang terendah dan tersingkir dalam masyarakat. Hal ini sering nampak dalam gereja kita. Kadang-kadang terdengar keluhan pendeta/guru kita: "Orang-orang yang berpangkat, yang sudah berada, yang terpelajar, sudah ada di dalam gereja-gereja lain; tinggal yang belum maju untuk Gereja Methodist." Jangan mengeluh! Patut disyukuri bahwa terbuka pelayanan ini bagi kita masa kini. Tetapi perkembangannya kemudian di zaman Wesley perlu disadari. Dengan penerimaan Injil oleh orang-orang ini, terjadi perubahan pesat pada keadaan mereka. John Wesley selalu menekankan perubahan hidup yang harus ada pada orang percaya. Misalnya, salah satu masalah sosial di kota-kota Inggris itu adalah kemabukan. Bila orang bertobat melalui pelayanan Wesley, dan dikuatkan dalam imannya sehingga dia tidak minum lagi, keadaan ekonominya cepat berubah. Sampai sekarang, kami anggap penting sekali bahwa John Wesley terbuka untuk bentuk-bentuk pelayanan yang baru, dan bahwa dia membawa pemberitaan Injil kepada semua orang, yang secara praktis berarti suatu penekanan pada golongan-golongan yang miskin. Satu strateginya memerlukan perhatian khusus di sini. Inilah strategi Wesley untuk mengumpulkan orang-orang yang bertobat ke dalam kelompok-kelompok kecil. Pada permulaan gerakan Methodist, setelah Aldersgate, jemaat-jemaat Methodist merupakan kelompok-kelompok doa didalam tubuh Gereja Anglikan (bersama dengan orang-orang lain, seperti orang Moravia). Mereka bertemu dalam kelompok-kelompok untuk belajar, berdoa, saling memeriksa diri dan saling membangun di dalam iman. Kemudian, kelompok-kelompok ini menjadi terlalu besar, sehingga terpaksa dibagi menjadi kelas-kelas kecil. Dengan istilah-istilah kita sekarang, setiap jemaat dibagi menjadi beberapa kelas/kelompok kecil, yang terdiri dari 10-12 orang. Pertimbangan Wesley ini hanya merupakan pengertian-pengertian dasar dari apa yang sekarang dinamakan Dinamika kelompok. Terbukti bahwa orang belajar dan berkembang lebih baik dalam kelompok-kelompok kecil (10-15 orang) daripada dalam kelompok yang lebih besar. Umpamanya di dalam diskusi, kalau ada 10 orang dalam kelompok diskusi itu, semuanya boleh mengambil kesempatan mengungkapkan sesuatu. Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa John Wesley adalah salah satu dari pelopor dari teori Dinamika Kelompok. Tetapi strategi ini bukan pemikiran Wesley sendiri. Dia hanya meniru hubungan Tuhan Yesus dengan 12 pengikutnya. Dengan contoh-contoh ini dihadapan kita, mengapa jemaat-jemaat kita begitu segan dan lambat menerapkan strategi ini? apakah karena jemaat-jemaat kita "pendeta-sentris" - "gembala-sentris": anggota-anggota tidak mau menerima pelayanan kalau bukan dari pendeta/gembala jemaat? Apakah karena para gembala tidak mau menyerahkan bentuk-bentuk pelayanan baru ke dalam tangan orang lain? Kami yakin bahwa konsep strategi ini, kalau kita tidak menjalankannya seperti dijalankan John Wesley, akan mendukung suatu pembaharuan besar dalam jemaat-jemaat kita masa kini. Ada beberapa bentuk pelayanan John Wesley yang lain, yang juga relevan bagi kita masa kini. Sebagian saya yang disebutkan di dalam makalah yang singkat ini; semuanya meminta pembahasan yang sedalam-dalamnya agar dapat diterapkan sebaik-baiknya dalam gereja kita. Satu pelayanan Wesley yang penting adalah melalui nyanyian-nyanyian, terutama syair-syair yang digubah oleh Charles Wesley. Melalui jalan-jalan ini, theologia Methodist diajarkan kepada rakyat dalam bentuk sederhana yang gampang diingat, karena dinyanyikan. Lagu-lagunya up-to-date dan populer, dan disukai rakyat, karena apa yang dinyanyikan adalah pengalaman mereka sendiri, yang dapat dinyanyikan dari hati mereka sendiri. Kami yakin bahwa hal menggali warisan John dan Charles Wesley dalam hal ini bukanlah mempelajari lebih banyak dari syair-syair mereka (walaupun penting juga untuk pelajaran theologianya), tetapi warisan Methodist adalah semangat untuk menggubah syair-syair kita sendiri, untuk bernyanyi dari hati dan jiwa kita. Satu pelayanan Wesley yang lain adalah konferensi-konferensi yang diadakan. Sama soalnya dalam berbagai-bagai pokok yang lain, sekarang kita cenderung mengambil bentuk konferensinya tanpa isinya dan jiwanya. Konferensi bagi Wesley bukanlah untuk mendengarkan laporan-laporan, untuk mengadakan "business". Konferensi merupakan waktu pengajaran, dibahas sedalam-dalamnya apa yang mau diajarkan, pokok-pokok apa saja yang harus ditekankan dalam waktu mendatang. Juga dibangun persekutuan korps pekerja sehingga semuanya harus merasa kompak di lapangan. (Mungkin sekali "retreat" pekerja, seperti kadang-kadang diadakan sekarang, lebih merupakan konferensi dalam arti Wesley daripada semua konferensi-konferensi kita). Akhirnya, beberapa kekhasan pelayanan Wesley dapat digabung dengan istilah ke-"serius"an pelayanan Kristen. Maksud kami, Wesley menganjurkan dan mengharapkan agar semua pekerja akan giat belajar dan memperluas pengertiannya tentang iman Kristen, demi pelayanannya yang lebih efektif. Pernah Wesley mengatakan kepada seorang pekerja full-timer, yang agak malas rupanya: "Kalau kamu tidak bersedia belajar sebanyak 5 jam sehari (!), lebih baik kamu kembali bekerja di pabrik saja, daripada terus mengajar apa yang tidak dimengerti." (Berapa banyak kita akan "lulus" ukuran Wesley ini?) Tujuan dari semua disiplin hidup sebagai orang Methodist, bukanlah kebanggaan dirinya sebagai orang Kristen yang serius, yang sungguh-sungguh, yang sempurna. Tujuannya untuk menunaikan panggilan melayani dalam nama Yesus Kristus, seperti dalam seruan Rasul Paulus: "Kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil, dan tunaikanlah tugas pelayananmu!" (1 Timotius 4:5) Semoga Tuhan Yesus menambah kemauan dan kekuatan kepada kita semua untuk menghidupkan kembali warisan pelayanan dalam tradisi kita. Bukan sekedar meniru John Wesley sekarang; melainkan lebih-lebih sebagai pengikut Kristus! Pdt. Dr. Dale F. Walker adalah pendeta Methodis yang lama melayani di Indonesia . Sebagai Missionaris di Lampung. Kemudian mengajar di STT Jakarta . Lalu mempersiapkan dan mengajar Institut Theologia Alkitabiah. .GMI di Bandar Baru. Setelah itu melayani beberapa tahun di Polandia. Kemudian kembali menjadi Gembala jemaat Gereja .Methodist di Amerika dan mengajar di Ausbury Theological Seminary. |
|