HIDUP JOHN WESLEY DAN CIRI-CIRI KHAS PELAYANAN METHODIST

oleh : Pdt. Dr.D.F. Walker

Tepat sekali kalau suatu pembahasan tentang theologia John Wesley dimu­lai dengan memandang ciri-ciri khas pelayanannya. Pada zamannya, John Wesley dikenal sebagai  pengkhotbah yang menginjili dan melayani di  mana-mana.  Dia tidak dikenal sebagai ahli dalam theologia; namanya mungkin tidak disebutkan dalam daftar orang-orang ternama dalam bidang theologia yang bersifat akademis pada  waktu itu.

Wesley sendiri menolak semua pembahasan teoretis itu  sebagai omongan  sia-sia  dan  tidak berguna. Tetapi theologia  praktis ,  atau  dengan istilah  Wesley "Practical Divinity", itulah yang Wesley perjuangkan:  melalui khotbahnya, melalui karangan-karangannya, melalui perdebatan, melalui  pelaya­nannya. Jadi, theologia Wesley dikenal melalui pelayanannya, karena timbul di dalam perjuangan sehari-hari, Wesley tidak  pernah  mengarang  sebuah  buku "Dogmatika Kristen"; tetapi isi dan jiwa theologianya harus digali dari  semua bentuk pelayanannya.

Berhubungan  dengan fakta ini, ada tiga catatan yang  perlu  ditambahkan dan  harus  kita ingat. Yang pertama, sering didengar/ dibaca  pandangan  orang dari tradisi lain (Calvinis, Lutheran, dsb), bahkan dari orang Methodist juga, bahwa Wesley sebenarnya bukan ahli dalam theologia, bahwa dia seorang  pengin­jil, yang giat, rajin, tetapi pemikirannya agak dangkal. Jadi, katanya, kurang penting  untuk  perhatian kita sekarang ini. Barangkali pandangan  ini  timbul oleh  karena tidak ada satu karangan Wesley yang luas seperti Institutio  oleh Calvin.

Namun demikian, kalau pembahasan-pembahasan Wesley digali, dari khot­bahnya ,  traktatnya , surat-suratnya dan karangan-karangannya yang lain,  semua pokok-pokok  dogmatika  ada, dan dibahas dengan terinci dan  mendalam.  Hanya, pembahasannya bukan sebagai uraian yang sistematis, tetapi apa yang diperlukan secara praktis dan relevan di dalam situasi yang tertentu. Harus diakui  bahwa pokok-pokok theologia Wesley lebih sulit dipelajari daripada sistematika  dari pelopor-pelopor  theologia yang lain. Tetapi kalau kita berusaha  mengertinya, mungkin  penjelasan-penjelasan  Wesley  lebih hidup bagi  kita,  karena  tidak pernah  terlepas  dari  persoalan-persoalan praktis  dalam  pelayanannya,  dan seingkali tetap relevan dalam situasi kita juga.

Catatan kedua tentang tujuan theologia adalah begini: John Wesley  tidak bermaksud  memberikan  suatu theologia yang baru. Tetapi  dia  mau  menerapkan theologia  yang  sudah ada, lebih-lebih theologia  tradisinya  sendiri,  yaitu theologia Anglikan. Sedapat mungkin definisi-definisi dikutip dari pengajaran Anglikan dan dihubungkan dengan ajaran Alkitab. Dengan demikian Wesley bermak­sud  menekankan pokok-pokok theologia Anglikan yang tidak begitu diperhatikan pada  masa  itu. Andaikata Wesley mendengar istilah kita  " theologia  Wesley", dapat dipastikan  bahwa dia akan kurang senang. Tidak mungkin  ada  theologia benar yang lain daripada theologia Alkitab. Maksudnya hanya untuk  menjelaskan bagaimana  theologia  yang praktis di dalam Alkitab  diteruskan  dalam  ajaran tradisi  Anglikan. Sekarang, katanya, theologia praktis ini harus terbuka  dan diberitakan kepada semua.

Catatan  kita  yang ketiga adalah tentang istilah  "praktis".  Maksudnya "theologia yang praktis", bukan "theologia praktis" seperti yang ada di  dalam kurikulum theologia di Indonesia, yaitu teori homilitika, teori  penggembalaan dsb.   Bagi  Wesley , theologia praktis adalah theolgia keselamatan;  apa  yang praktis bagi setiap orang, apa yang perlu mereka sadari tentang dirinya seba­gai  orang berdosa, dan jalan keselamatan yang disediakan Tuhan Allah  melalui Yesus Kristus. Inilah  yang sungguh-sungguh "praktis",  karena  inilah  yang menunjukkan arah jalan kita ke hidup yang kekal.

Setelah  pendahuluan ini, kami ingin menunjukkan beberapa  faktor  dalam pelayanan Wesley yang akan menolong kita mengerti situasi dan konteks  perkem­bangan gerakan Methodist pada waktu itu. Mudah-mudahan faktor-faktor ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penilaian terhadap pelayanan gereja kita masa kini.

Ciri-ciri khas yang kami anggap penting dalam pelayanan Wesley, bukanlah pokok-pokok theologia. Seperti kami katakan di atas, theologia Wesley bukanlah ajaran baru. Tetapi cara pelayanannya adalah baru. Satu kekhasan sifat  Wesley sendiri  membuka jalan bagi banyak segi perkembangan Methodist. Yang  dimaksud ialah Wesley sendiri, terbuka, rupanya, untuk berubah. Pikirannya dapat  beru­bah , dan dia berani mengubah tradisi dan kebiasaan dimana perlu.

Memang tidak selalu demikian. Kepribadian Wesley sangat konservatif; dia menjunjung  tinggi semua tradisi-tradisi gerejanya. Banyak kesulitan yang  dia alami dalam pelayanan di Amerika dahulu, misalnya, disebabkan pandangan Wesley yang konservatif itu: semua peraturan gereja harus dilaksanakan dengan  inter­pretasinya yang paling keras. Tidak ada kelonggaran untuk menimbang sikon-nya; semuanya diterapkan menurut apa yang tertulis dalam  " adat"nya,  yaitu  buku Disiplin Gereja Anglikan.

Setelah pembaharuan hidupnya di Aldersgate, Wesley tetap berjiwa konser­vatif.  Kalau diadakan perubahan dalam pelayanannya, harus  ada  alasan  yang logis,  yang  cukup  meyakinkan. Tetapi yang paling penting  ialah  bahwa  dia sungguh  terbuka  untuk mengubah cara pelayanannya. Dan ada alasan  kuat  yang baru:  demi  pemberitaan Injil kepada setiap manusia, dan  demi pengembangan kekudusan dimana-mana. Tidak mudah Wesley berubah. Tetapi sekali dia  diyakin­kan tentang bentuk pelayanan yang baru, dia berubah dengan semua kekuatan  dan semangatnya untuk menerima pembaharuan itu.

Beberapa  contoh dapat menolong kita mengerti sifat ini.   Yang  pertama , masalah berkhotbah di lapangan terbuka. Sulit sekali Wesley menerima cara ini. Sudah  dimulai oleh temannya George Whitefield, dan ternyata berhasil.   White­field  terus  membujuk Wesley untuk mengikutinya. Tetapi Wesley  mau  menolak; kurang  khidmat,  rasanya. Khotbah harus disampaikan dalam konteks  ibadah di dalam  gedung gereja, tempat yang telah ditahbiskan, dikhususkan untuk  maksud ini.  

Di luar gedung gereja, tidak sah, paling tidak kurang pantas diberikan. Whitefield  membujuk terus: di daerah itu (dekat tambang batubara)  tidak  ada gedung gereja; pendeta-pendeta yang ada tidak mau melayani orang-orang  ini. Celakalah  orang -orang ini kalau mereka tidak mendengar berita  Injil!   Wesley bimbang. Dia  mau  memberitakan Injil, tetapi harus  dengan  khidmat  menurut tradisi  Anglikan.

Tetapi makin lama makin banyak gedung gereja yang  tertutup bagi dia, yaitu tempat dia dilarang berkhotbah. Wesley mencari bimbingan dari Alkitab ;  dia memperhatikan contoh Yesus sendiri, dengan "Khotbah  di  Bukit". Akhirnya  dia mencoba, walaupun hatinya masih segan melakukan hal yang  menji­jikkan  seperti ini. Dan dia heran; berhasil juga di lapangan itu. Tidak  ada keragu-raguan lagi; sudah jelas bahwa Roh Tuhan memberkati cara pelayanan ini.

Mulai  saat itu, John Wesley siap sedia memberitakan Injil dan  berkhotbah  di mana-mana:  di lapangan terbuka, di pingir jalan, di rumah orang,  bahkan  di gereja, kalau ada yang masih terbuka bagi dia.

Satu contoh yang lain dapat menjelaskan perubahan pelayanan yang drastis juga.  Dalam Gereja  Anglikan , dan di banyak tradisi lain  juga  tidak  boleh berkhotbah  kecuali dia sudah ditahbiskan, sudah menjadi pendeta, John  Wesley mengikuti  peraturan  dan kebiasaan ini. Tetapi makin lama  makin  sibuk  dia, bersama adiknya Charles, yang ditahbiskan juga, dan satu dari dua pendeta lain yang  bersedia  turut melayani gerakan Methodist itu. Orang-orang  lain,  kaum awam, boleh  memberi bermacam-macam pengajaran,  tetapi  tidak  diperbolehkan berkhotbah di dalam ibadah resmi.

Sekali lagi, kurang khidmat, rasanya,  kalau orang  yang tidak terlatih akan menyampaikan Firman Tuhan. Namun  John  Wesley dan  teman-teman pendeta tidak mungkin berada di setiap tempat; sudah  terlalu banyak  kelompok-kelompok Methodist, dan jumlahnya bertambah terus. Pada  satu hari,  kira-kira dua tahun setelah Aldersgate, John Wesley ada di luar London ketika datang berita bahwa Thomas Maxwell, seorang awam, telah mulai  berkhot­bah di tempat pertemuan Methodist di London. Secepat mungkin Wesley berangkat, marah-marah,  untuk mengatur kembali jemaatnya di   London .  

Menurut  laporan, Wesley tiba di London pada sore hari ketika kebaktian baru mulai. Sebelum  dia dapat  turun dari kudanya, ibunya keluar ke jalan menjemput dia  dan  berkata: "Tenanglah dulu, John. Jangan lekas bertindak; dengarlah dahulu." John  Wesley mengikuti  nasihat  ini, dan setelah kebaktian itu dia bersaksi  bahwa  Thomas Maxwell  ini sungguh-sungguh mempunyai karunia berkhotbah.

Maxwell  ditetapkan sebagai pengkhotbah, dan kemudian banyak kaum awam lagi yang juga  terpanggil. Demikianlah permulaan tradisi Methodist yang berani memakai pengkhotbah awam untuk  melayani jemaat-jemaat, karena ternyata bentuk pelayanan ini  diberkati oleh Roh Allah. Dengan bentuk pelayanan yang baru ini, daerah pelayanan  Meth­odist dapat diluaskan lebih banyak lagi. Sampai sekarang pun begitu; alangkah sempitnya  pelayanan Gereja Methodist kita tanpa peranan para Guru  Injil  dan pengkhotbah  awam! Dapat disyukuri bahwa inilah salah satu kekhasan  Methodist yang makin ditiru gereja-gereja lain.

Cerita  yang serupa juga terjadi. John Wesley segan  membiarkan  wanita berkhotbah  atau memimpin. Gereja Anglikan melarangnya, dan kalau  dipikirkan, tentunya  kurang khidmat, kurang pantas, kata orang. Namun ada keperluan,  dan ternyata bahwa Roh Allah memakai para wanita dalam pemberitaan Firman. Terpak­sa  Wesley mengakui bahwa mereka terpanggil dengan karunia-karunia yang  sama, dan harus diterima dengan hak-hak yang sama juga.

Hanya sayang,  gereja-gereja Methodist  kemudian memutar-balikkan keputusan Wesley dalam hal ini,  sehingga masih ada kesulitan-kesulitan kita menerima logika pelayanan  Wesley.  (Dapat dicatat:  walaupun pelayanan Wesley ini ditolak  oleh  "anak-anaknya",  yaitu gereja-gereja Methodist kemudian, diterima oleh "cucu-cucunya", termasuk  Bala Keselamatan  dan gereja-gereja Pentakosta. Baru dalam generasi yang lalu  ini, gereja-gereja Methodist mulai memikirkan hal ini kembali)

Pokoknya,  John  Wesley  sendiri siap dan terbuka  untuk  berubah,  demi pekabaran  dan pelayanan Injil. Bahkan akhirnya , Wesley  mengambil  keputusan untuk  menahbiskan orang menjadi pendeta. Tindakan ini jelas melanggar  dasar-dasar  peraturan  Anglikan dan tetap merupakan masalah  antara Methodist dan Anglikan  sampai sekarang. (Seorang pendeta Methodist tidak boleh melayani  di gereja Anglikan  kecuali dia ditahbiskan kembali).

Namun John Wesley yakin bahwa  tindakan ini sangat dibutuhkan demi pelayanan, dan diberkati  oleh  Roh Allah. Tambahan lagi, Wesley menjadi yakin bahwa cara ini sesuai  dengan  pe­layanan gereja purba yang terlihat dalam Perjanjian Baru. (Seluruh masalah ini terlalu rumit untuk dibahas sedalam-dalamnya sekarang; namun perlu kita  seli­diki,   karena  pada  peranan  uskup/bishop  dalam   gereja-gereja Methodist sekarang). Sekali lagi lagi, John Wesley terbuka untuk mengubah  bentuk-bentuk pelayanan, demi panggilannya untuk memberitakan Injil.

Kekhasan pelayanan Wesley yang kedua ialah: Wesley ingin menjumpai orang dimana saja mereka berada. Injil adalah untuk seluruh umat manusia.  (Perhati­kanlah  dalam  syair-syair Charles Wesley, betapa banyaknya  dipakai  istilah-istilah:  semua,  segala, setiap, seluruh). Panggilan Wesley, dan  panggilan kita,  adalah untuk mencari mereka. Ciri ini tidak baru bagi kita,  namun ada implikasi-implikasinya yang perlu diperhatikan.

Bayangkanlah John sedang berkhotbah kepada kaum buruh pada pk.5.00 pagi, karena  mereka  harus masuk ke tambang batu bara pada pk.6.00.  Pulang  malam-malam,  mereka  letih. Jadi, kalau mereka akan  mendengarkan  Injil,  terpaksa pagi-pagi,  sebelum masuk kerja. Memang Wesley sudah bangun, umumnya  pk.4.00. Tetapi  dia lebih suka memakai waktu pagi-pagi ini untuk berdoa.  Namun  kalau ada orang yang harus mendengarkan Injil pada jam itu, Wesley siap melayaninya. Kapan  saja, dimana saja, dengan cara bagaimanapun juga, Wesley ingin  menyam­paikan Kabar Baik itu.

Jadi kebaktian-kebaktian di kelompok-kelompok Methodist tidak ditentukan jamnya. Tidak harus pk.9.00 atau pk. 11.00 pagi, jam apapun yang tradisional. Boleh jadi pk.10.00 malam, menurut keperluan setempat. Demikian juga  tempatn­ya.  Seperti yang dikemukakan diatas, Wesley siap berkhotbah dimana  saja  ada orang.  Bahkan  setelah ada banyak gedung-gedung  pertemuan Methodist,  masih dipakai  tempat-tempat  lain seperti lapangan terbuka  dan  rumah-rumah  lain. (Perlu dicatat disini, pada zaman Wesley, gedung-gedung Methodist belum  dise­but  "gereja", karena belum ada "Gereja Methodist".  

Organisasinya  merupakan gabungan  kelompok-kelompok doa  saja).  Cara-caranya  berbeda  juga  menurut tempatnya. Yang paling relevan bagi kita adalah soal bahasa. Kelompok-kelompok Methodist dari permulaannya memakai bahasa atau logat sesuai dengan lokasinya. Pokoknya  adalah komunikasi dengan orang-orang yang ada. Harus menjadi perha­tian  kita juga di mana saja ada orang yang menjauhkan diri dari  gereja  oleh karena bahasa atau logat yang dipakai.

Untuk  melayani kelompok-kelompok Methodist di seluruh kerajaan  Inggris pada  waktu itu, Wesley harus banyak berjalan, dan perjalanannya  jauh.  Semua pendetanya  dan gurunya terpaksa berjalan juga. Mereka tidak boleh menetap  di satu  tempat.  Menjadi pekerja Methodist berarti:  berpindah-pindah.  Sehingga istilah  tradisional  untuk pendeta Methodist adalah "pendeta  yang  berjalan" (traveling elder). Dengan sistem ini, korps pekerja Methodist mempunyai  mobi­litas  yang  luar biasa; di mana saja ada kesempatan untuk  melayani,  pekerja Methodist  bisa diutus cepat. Boleh saja seorang pekerja mulai menetap,  tidak berpindah-pindah  lagi. Tetapi dia menjadi penkhotbah lokal saja;  tidak  lagi terhitung di dalam korps pekerja yang khusus.

Pada  zaman modern ini, sistem Methodist ini mendapat banyak  tantangan, dan  idealnya sering digeser, sehingga dapat ditanyakan berapa banyak  pekerja kita yang sungguh-sungguh siap "berjalan". Mungkin sudah waktunya untuk  memi­kirkan  seluruh konsep ini. Apakah sistem ini sesuai dengan Kehidupan  modern? Apakah perlu dibedakan golongan-golongan pekerja menurut kesanggupan/kerelaan berpindah?  Bagaimana mobilitas gereja kita dapat dikembangkan  pada sekarang ini?  Yang terakhir ini adalah yang penting bagi Wesley.  Pelayanan  Methodist harus mempunyai mobilitas untuk memasuki ladang-ladang yang baru dengan cepat.

Satu  kekhasan lagi yang menjadi nyata dalam pelayanan Wesley: dia  men­cari  orang-orang  yang miskin. Mungkin ini bukan sasaran Wesley pada permu­laannya, tetapi kenyataannya demikian. Yang masuk ke dalam kelompok-kelompok Methodist, pada umumnya, adalah golongan-golongan terendah, miskin dan tertin­das di dalam masyarakat Inggris. Orang-orang di lapisan masyarakat yang  lain tidak begitu memerlukan pelayanan Methodist, karena mereka sudah ada di Gereja Anglikan  dan  gereja-gereja  yang lain.

Termasuk di  sini  ialah  buruh-buruh tambang, para buruh di pabrik-pabrik yang banyak berkembang di  pingir-pinggir kota pada waktu itu, sehingga orang berduyun-duyun pindah dari pelosok-pelosok dan masuk ke kota-kota ini. Keadaan mereka memprihatinkan. John menyuruh  para pekerjanya  mencari orang-orang yang paling banyak memerlukan  pelayanan  ini, yaitu  orang-orang tertindas dan miskin. Jangan membuang waktu  dengan  orang-orang  yang  berada,  yang terpelajar, yang sudah maju.  Karena  mereka  tidak terbuka untuk pemberitaan kita.

Di mana saja orang Methodist mengikuti panggilan John Wesley,  ceritanya sama.  Pemberitaan Injil menjadi Kabar Baik justru bagi orang yang tidak  mem­punyai  harapan  yang  lain, orang-orang yang terendah  dan  tersingkir  dalam masyarakat.  Hal ini sering nampak dalam gereja kita. Kadang-kadang  terdengar keluhan  pendeta/guru kita: "Orang-orang yang berpangkat, yang  sudah  berada, yang  terpelajar,  sudah ada di dalam gereja-gereja lain; tinggal  yang  belum maju  untuk Gereja Methodist." Jangan mengeluh! Patut disyukuri bahwa  terbuka pelayanan ini bagi kita masa kini.

Tetapi perkembangannya kemudian di zaman Wesley perlu disadari.  Dengan penerimaan  Injil oleh orang-orang ini, terjadi perubahan pesat  pada  keadaan mereka.  John  Wesley selalu menekankan perubahan hidup yang  harus  ada  pada orang  percaya. Misalnya, salah satu masalah sosial di kota-kota  Inggris  itu adalah kemabukan. Bila orang bertobat melalui pelayanan Wesley, dan  dikuatkan dalam imannya sehingga dia tidak minum lagi, keadaan ekonominya cepat berubah.

Dalam satu generasi, keluarganya sudah maju, anak-anaknya mendapat  pendidikan dan  jabatan-jabatan  yang baik. Banyak warga Methodist tidak  tergolong  lagi kepada orang miskin, tetapi sudah masuk ke dalam kelas menengah. Selama Wesley hidup, ada perhatian terus-menerus kepada golongan-golongan miskin yang  baru. Tetapi  kemudian,  dalam abad berikutnya, banyak orang Methodist  tidak  lagi mengenal  asal-usulnya; mereka mulai menyingkirkan orang-orang yang  di bawah mereka di dalam strata masyarakat.

Sekitar tahun 1850, seorang pekerja  diusir dari  Gereja Methodist karena ia terpanggil untuk menginjili orang-orang  yang terendah  di   kota London : gelandangan, pencuri, pelacur, dsb.  Dialah  Wiliam Booth  yang  mendirikan Bala Keselamatan untuk melayani orang-orang  ini  yang tidak diperhatikan oleh gerejanya. Cerita ini sering diulang-ulangi d  tempat-tempat  lain. Patut sekali warga-warga kita maju, tetapi selalu  ada  golongan miskin  yang  lain yang harus diinjili dan dilayani. Marilah  kita  menghayati visi  yang  ada pada John Wesley, yang memusatkan panggilannya  pada  golongan masyarakat yang paling jauh dari Injil.

Sampai  sekarang, kami anggap penting sekali bahwa John  Wesley  terbuka untuk  bentuk-bentuk  pelayanan yang baru, dan bahwa dia  membawa  pemberitaan Injil  kepada  semua orang, yang secara praktis berarti suatu  penekanan  pada golongan-golongan yang miskin. Satu strateginya memerlukan perhatian khusus di sini.  Inilah strategi Wesley untuk mengumpulkan orang-orang yang bertobat  ke dalam kelompok-kelompok kecil.

Pada  permulaan  gerakan Methodist,  setelah  Aldersgate,  jemaat-jemaat Methodist  merupakan  kelompok-kelompok  doa  didalam  tubuh  Gereja  Anglikan (bersama dengan orang-orang lain, seperti orang Moravia). Mereka bertemu dalam kelompok-kelompok  untuk  belajar, berdoa, saling memeriksa  diri  dan  saling membangun  di  dalam  iman. Kemudian, kelompok-kelompok  ini  menjadi  terlalu besar,  sehingga  terpaksa dibagi menjadi kelas-kelas kecil.  Dengan istilah-istilah  kita sekarang, setiap jemaat dibagi menjadi  beberapa  kelas/kelompok kecil, yang terdiri dari 10-12 orang.

Bila jumlahnya ditambah dengan  anggota-anggota kelas yang baru, tetap dengan jumlah yang kecil. Pertemuan yang paling penting  adalah di dalam kelas. Anggota-anggota baru tidak masuk jemaat  besar lalu dibagi di dalam kelas-kelasnya dahulu. Kalau seluruh jemaat bertemu untuk Perjamuan  Kudus, misalnya, anggota-anggota yang setia dalam  kelasnya  diberi tanda  masuk  ke Perjamuan itu.

Jadi, disiplin dapat diselenggarakan melalui kelas-kelasnya,  karena  di situ ada pemimpin yang  mengenal  setiap  orangnya dengan baik. Caranya begini: kalau ada jemaat yang terdiri dari beberapa ratus orang,  mungkin sekali ada yang tidak hadir selama beberapa minggu, dan  keti­dakhadiran  itu belum diperhatikan. Apakah dia sakit, malas, bergumul dengan masalah  hidupnya, mulai kendur dengan imannya. Belum diketahui, tetapi  kalau dia  tidak diperhatikan dan dikunjungi, mungkin sekali dia tidak akan  kembali dalam  jemaat itu. Tetapi dalam sistem kelas, pemimpinnya, dan  teman-temannya yang lain, sudah mengetahui minggu pertama dia absen, sehingga dapat  membimb­ing dia.

Pertimbangan Wesley ini hanya merupakan pengertian-pengertian dasar dari apa  yang sekarang dinamakan Dinamika kelompok. Terbukti bahwa orang belajar dan berkembang lebih baik dalam kelompok-kelompok kecil (10-15 orang) daripada dalam kelompok yang lebih besar. Umpamanya di dalam diskusi,  kalau  ada  10 orang dalam kelompok diskusi itu, semuanya boleh mengambil kesempatan mengung­kapkan  sesuatu.  

Dalam kelompok yang terdiri dari 50 orang, tidak  akan  ada lebih  dari  10-15 orang yang turut berpartisipasi dalam  diskusi  itu.  Kalau kelompok  itu  terdiri dari 200 orang, yang berpartisipasi aktif  tetap  10-15 orang.  Orang dapat berkembang melalui partisipasinya. Demikian kalau  berdoa: dalam  kelompok  kecil,  setiap orang dapat  berdoa/didoakan;  dalam  kelompok besar,  kebanyakan  orang akan malu mengemukakan isi hatinya;  mereka  tinggal pasif saja.

Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa John Wesley adalah salah satu dari pelopor  dari  teori Dinamika Kelompok. Tetapi strategi  ini  bukan  pemikiran Wesley  sendiri. Dia hanya meniru hubungan Tuhan Yesus dengan 12  pengikutnya. Dengan  contoh-contoh  ini dihadapan kita, mengapa jemaat-jemaat  kita  begitu segan  dan  lambat menerapkan strategi ini? apakah karena  jemaat-jemaat  kita "pendeta-sentris" - "gembala-sentris": anggota-anggota tidak  mau  menerima pelayanan kalau bukan dari pendeta/gembala jemaat? Apakah karena para gembala tidak mau menyerahkan bentuk-bentuk pelayanan baru ke dalam tangan orang lain? Kami yakin bahwa konsep strategi ini, kalau kita tidak menjalankannya seperti dijalankan John Wesley, akan mendukung suatu pembaharuan besar dalam  jemaat-jemaat kita masa kini.

Ada  beberapa bentuk pelayanan John Wesley yang lain, yang juga  relevan bagi  kita  masa  kini. Sebagian saya yang disebutkan di dalam makalah  yang singkat  ini;  semuanya meminta pembahasan yang  sedalam-dalamnya  agar  dapat diterapkan sebaik-baiknya dalam gereja kita.

Satu  pelayanan  Wesley yang penting adalah  melalui  nyanyian-nyanyian, terutama  syair-syair  yang digubah oleh Charles Wesley.  Melalui  jalan-jalan ini,  theologia Methodist diajarkan kepada rakyat dalam bentuk sederhana  yang gampang diingat, karena dinyanyikan. Lagu-lagunya up-to-date dan populer,  dan disukai rakyat, karena apa yang dinyanyikan adalah pengalaman mereka  sendiri, yang dapat dinyanyikan dari hati mereka sendiri.

Sepintas lalu, dapat ditanya­kan mengapa orang Inggris boleh mengungkapkan imannya sendiri melalui nyanyian rohani, tetapi kita di Indonesia , rupanya, harus memakai nyanyian rohani  dari orang lain, dalam bentuk terjemahan saja, yang tidak begitu kena pada hati dan pikiran kita. (Sebagai perbandingan, buku nyanyian Methodist di Amerika  Seri­kat memuat k.l. 10% syair yang diterjemahkan dari bahasa/kebudayaan lain,  dan 90%  yang  asli dalam bahasa/kebudayaan Inggris. Dalam  Nyanyian  Rohani  GMI, persentasenya  100% terjemahan, dan syair-syair yang asli  dalam  bahasa/kebu­dayaan  kita:  Nol! Mudah-mudahan angka ini akan berubah dalam  buku  nyanyian rohani baru yang kita nantikan sekarang)

Kami yakin bahwa hal menggali warisan John dan Charles Wesley dalam hal ini bukanlah mempelajari lebih banyak dari syair-syair mereka (walaupun pent­ing juga untuk pelajaran theologianya), tetapi warisan Methodist adalah semangat untuk menggubah syair-syair kita sendiri, untuk bernyanyi dari  hati  dan jiwa kita.

Satu pelayanan Wesley yang lain adalah konferensi-konferensi yang diada­kan. Sama soalnya dalam berbagai-bagai pokok yang lain, sekarang kita cender­ung mengambil bentuk konferensinya tanpa isinya dan jiwanya. Konferensi bagi Wesley bukanlah untuk mendengarkan laporan-laporan, untuk mengadakan "busi­ness".  Konferensi merupakan waktu pengajaran, dibahas  sedalam-dalamnya  apa yang  mau  diajarkan, pokok-pokok apa saja yang harus ditekankan  dalam  waktu mendatang.  Juga dibangun persekutuan korps pekerja sehingga  semuanya  harus merasa kompak di lapangan. (Mungkin sekali "retreat" pekerja, seperti  kadang-kadang diadakan sekarang, lebih merupakan konferensi dalam arti Wesley daripa­da semua konferensi-konferensi kita).

Akhirnya, beberapa kekhasan pelayanan Wesley  dapat  digabung  dengan istilah ke-"serius"an pelayanan Kristen. Maksud kami, Wesley menganjurkan dan mengharapkan agar semua pekerja akan giat belajar dan memperluas pengertiannya tentang iman Kristen, demi pelayanannya yang lebih  efektif.  Pernah  Wesley mengatakan kepada seorang pekerja full-timer, yang agak malas rupanya:  "Kalau kamu tidak bersedia belajar sebanyak 5 jam sehari (!), lebih baik kamu kembali bekerja  di pabrik saja, daripada terus mengajar apa yang  tidak  dimengerti." (Berapa banyak kita akan "lulus" ukuran Wesley ini?)

Semua warga Methodist harus menerapkan suatu hidup berdisiplin, lebih-lebih para pekerja.  Disiplin merupakan disiplin hidup (seperti tertulis dalam Pedoman Hidup Orang Kristen). Disiplin  hidup  ini mencakup perubahan sungguh-sungguh  yang  harus  terlihat dalam  kehidupan  semua anggota. Ada lagi disiplin studi, seperti dikatakan diatas. Dipentingkan juga disiplin berdoa, yaitu disiplin dalam kerohanian.

Tujuan  dari  semua  disiplin hidup sebagai  orang  Methodist,  bukanlah kebanggaan  dirinya sebagai orang Kristen yang serius,  yang  sungguh-sungguh, yang sempurna. Tujuannya untuk menunaikan panggilan melayani dalam nama Yesus Kristus,  seperti  dalam seruan Rasul Paulus: "Kuasailah dirimu  dalam  segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil, dan tunaikanlah tugas pelayananmu!" (1 Timotius 4:5)

Semoga Tuhan Yesus menambah kemauan dan kekuatan kepada kita semua untuk menghidupkan  kembali  warisan  pelayanan dalam tradisi  kita.  Bukan  sekedar meniru John Wesley sekarang; melainkan lebih-lebih sebagai pengikut Kristus!

Pdt.  Dr.  Dale F. Walker adalah pendeta Methodis yang lama melayani di Indonesia .  Sebagai Missionaris  di Lampung.  Kemudian mengajar di STT Jakarta . Lalu mempersiapkan dan mengajar Institut  Theologia  Alkitabiah. .GMI  di  Bandar Baru. Setelah itu melayani beberapa tahun di Polandia. Kemudian kembali menjadi  Gembala  jemaat  Gereja .Methodist di Amerika dan mengajar di Ausbury Theological Seminary.


[ return ]