|
KAUM METHODIST ORANG YANG GEMAR MEMUJI TUHAN oleh : Jo Harbert Pendahuluan Di dalam sejarah gereja Kristen, orang-orang yang beriman selalu mengeluarkan perasaan mereka melalui nyanyian dan musik, baik dengan suaranya sendiri maupun dengan alat-alat musik. Kata "bernyanyi" (sing) di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan orang-orang bernyanyi sering ada hubungannya dengan bergembira ataupun kegemaran. Kadang-kadang kata bernyanyi (sing) dalam bahasa Inggeris berarti bersorak-sorak atau mengucapkan, tetapi disini kita pakai kata itu dengan arti "membuat bunyi" atau "nada dengan suara". Di Mazmur 5:11 kita membaca, "Mereka akan bersorak-sorai (sing) selama-lamanya" dan di Mazmur 100:2 si pencipta mengajak kita untuk "Datanglah ke hadapannya dengan sorak-sorai (sing)!" Daud mengatakan di II Samuel 22:50b , " dan aku mau menyanyikan mazmur bagi namaMu." Disini bersorak-sorai berarti bernyanyi dan mazmur berarti nyanyian (di dalam bahasa Inggeris). Tidak mengherankan bahwa dari awal sejarah Gereja Methodist di Negara Inggeris, orang-orang yang memimpin maupun yang dipimpim dalam ibadat suka bernyanyi sebagai suatu cara mengeluarkan perasaan hati. Pada zaman sebelum John Wesley dan adiknya, Charles Wesley, di abad 16 dan 17, gereja-gereja semua mempunyai peraturan tertentu mengenai lagu-lagu gereja, kususnya mengenai syairnya. Hanya boleh menyanyikan Mazmur-mazmur dan tidak boleh dirobah sama sekali seperti di English Metrical Psalmody . (Douglas, 1962: 181) Pada tahun 1708, buku nyanyian Lyra Davidica , mengatakan bahwa " tujuan musik adalah untuk menyediakan nyanyian yang lebih bebas daripada lagu-lagu Mazmur yang kuno". (Douglas, 1962: 184) Melalui buku nyanyian itu dan buku-buku baru yang lainnya, satu transformasi dimulai sedikit demi sedikit, yang ternyata mampu membawa kaum Methodist di abad 18, sampai gereja itu terkenal sebagai satu gereja yang suka menyanyi. Charles Wesley, pengarang nyanyian Methodist yang terkenal Pada waktu Charles Wesley hidup di Negara Inggeris pada abad ke-18 sungguh mengalami suatu masa yang buruk. Mabuk-mabukan biasa terjadi di muka umum, baik anak-anak kecil maupun pemimpin masyarakat. Biasa saja orang berjudi dan mencari pelacur. Anak-anak dipekerjakan seperti budak belian dan pejabat pemerintah melakkan korupsi sampai sulit mencari orang-orang yang jujur. (Cermat, jilid 2, 1983: 46) Inilah cara masyarakat di waktu John dan Charles Wesley hidup di negara Inggeris. Tetapi di dalam rencana Tuhan mereka menjadi "alat Tuhan untuk membawakan suatu perobahan yang menakjubkan." (Cermat, jilid 2, 1983: 46) Apakah yang terlintas pada pikiran saudara kalau saudara sedang menyanyikan lagu "Beribu Lidah Patutlah"? Mungkin orang-orang di luar gereja merasa bahwa kata-kata "beribu lidah" itu adalah kata-kata yang aneh sekali, seperti bayangan atau mimpi. Ungkapan itu timbul dari pangalaman penciptanya. Si pencipta itu sudah pernah mendengar kotbah Peter Bohler, seorang pendeta dari Jerman, pada waktu mereka bersama-sama di kapal laut menuju ke Amerika. "Pendeta Bohler mengatakan sebagai berikut: 'Andaikan kumiliki seribu lidah, aku mau memuji Tuhan Yesus dengan semuanya. '" (Cermat, jilid 2, 1983: 45) Sesudah Charles Wesley kembali dari Amerika baru dia merasakan bahwa dia tidak mempunyai ketenteraman didalam hidupnya seperti Peter Bohler, dan pada tanggal 21 Mei, 1738, ia menyerahkan diri kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. (McCutchan, 1937: 200) Sesudah itu dia mulai menciptakan syair-syair untuk nyanyian gereja pada setiap kesempatan dan untuk semua keperluan belajar dan ibadah. Dan dia tidak berhenti menulis sampai akhir hidupnya. Semuanya berjumlah 6,500 lagu. (Luccock dan Hutchinson, 1926: 108) Untuk beberapa tahun Charles dan John Wesley mengumpulkan nyanyian-nyanyian setiap tahun. Lalu mereka mulai menggabungkan buku ini supaya ada buku-buku yang lebih besar (Luccock dan Hutchinson, 1926: 108) dan Charles terus menerus menciptakan syair-syair suci yang baru. Kalau saudara ingin tahu bagaimana Charles Wesley dapat mencari waktu untuk mengarang lebih dari 6,000 lagu gereja, bacalah tulisan ini dari surat- nya pada tanggal 2 Juni, 1743: "Dekat Ripley, saya terlempar dari kuda saya. Kawan saya menganggap bahwa leher saya sudah patah; tetapi kaki saya hanya luka memar, tangan saya keseleo dan kepala sakit sedikit. Dan ini menghalangi kerja saya mengarang lagu, dan saya sama sekali tidak bisa memikir sampai besok harinya waktu Tuhan membawakan kami dengan aman ke Newcastle ." (Willimon 1990: 16) Tetapi bagaimana mengenai lagu kita "Beribu Lidah Patutlah"? Sebelas tahun sesudah pertobatannya, pada tanggal 21 Mei 1749, Charles Wesley mengarang satu nyanyian pujian. Dan tentu dia mengingat akan perkataan Pendeta Peter Bohler dulu. Dari delapan belas ayat yang dikarang hari itu, 5 atau 6 masih di tulis dalam buku-buku nyanyian kita. Judulnya hari itu, "Pada Hari Ulang Tahun Pertobatanku". (McCutcheon, 1937: 200) Charles Wesley sangat praktis memakai musik sebagai alat penginjil. Pada satu hari ia mengadakan penginjilan dekat pelabuhan. Beberapa pelaut sedang lewat ramai-ramai menyanyikan sebuah lagu duniawi. Charles memanggil mereka dengan ramah, sebagai berikut: "Hai saudara-saudaraku, aku suka lagumu itu, tetapi tidak begitu suka kata-katanya. Bagaimana kalau kalian kembali dan ikut pertemuan kami besok? Pada saat itu aku menjanjikan kata-kata yang lebih baik untuk lagumu tadi. (Cermat, jilid 2, 1983: 48) Tantangan ini diterima pelaut itu dengan baik, dan besok harinya mereka hadir pada kebangunan rohani seperti yang dijanjikan. Charles Wesley sudah mencocokkan syair rohani dengan lagu duniawi itu dan pelaut-pelaut itu ikut dengan orang banyak menaikkan kepada Tuhan suatu nyanyian pujian baru. Nyanyian-nyanyian yang lain yang disyairkan oleh Charles Wesley diciptakan dengan cara yang sama. Lagu-lagu yang popular pada masa itu digunakan supaya orang-orang yang mengikuti acara kebangunan rohani itu dapat menyanyi kan lagu-lagu baru dengan mudah. Orang-orang yang buta hurufpun dapat mengikuti kebaktian dan mengerti theologi melalui nyanyian-nyanyian itu. Empat lagu Charles Wesley yang sering dinyanyikan didalam gereja-gereja Methodist di dunia sekarang adalah sebagai berikut:
John Wesley dan petunjuk bernyanyi John Wesley selalu mementingkan nyanyian-nyanyian di dalam kebangunan rohani yang diadakan dimana-mana di Inggeris. Dan dia bersama dengan Charles bukan hanya memakai lagu-lagu untuk memuji nama Tuhan tetapi juga sebagai alat mengajar orang mengenai kepercayaannya. Waktu mereka di koloni Amerika, John dan Charles menyusun sebuah buku nyanyian rohani yang menjadi buku yang pertama diterbitkan disitu. (Willimon, 1990: 16) Dia juga merasakan pentingnya cara bernyanyi di waktu ibadat, dan dia memasukkan petunjuk-petunjuk bernyanyi pada awal buku nyanyian rohaninya. Di Select Hymns yang diterbitkan pada tahun 1761, John Wesley menyuruh orang-orang yang ikut bernyanyi lagu-lagu itu, sebagai dituliskan: * (dilampirkan) Charles Wesley sebagai contoh di Indonesia Sering kita mendengar bahwa gereja-gereja di Indonesia , baik Gereja Methodist maupun gereja-gereja lain, harus memakai nyanyian di dalam kebaktian karangan orang Indonesia , lagu dan puisi yang diciptakan oleh orang Indonesia . Dan kita melihat buku nyanyian Kidung Jemaat (Yamuger) dimana ada banyak lagu ciptaan orang Indonesia . Kalau begitu, kenapa paper ini menceritakan mengenai orang-orang Inggeris itu, Charles dan John Wesley? Kita bisa baca dari Mazmur 33 yang berjudul puji-pujian kepada Allah Israel dari ayat 3, "Nyanyikanlah bagiNya nyanyian baru". Charles Wesley mengarang nyanyian-nyanyian baru yang cocok untuk negaranya pada zaman itu, dengan lagu-lagu yang sudah dikenal oleh orang-orang miskin yang hadir dalam pertemuan penginjilan itu. Kita semua bisa menjadi Charles Wesley ditempat kita sekarang. Kita bisa mengarang nyanyian baru dengan lagu yang sudah dikenal ataupun dengan lagu yang kita ciptakan sendiri. Supaya ayat 3 dari Mazmur tadi bisa menjadi kenyataan dan kita dapat "nyanyikanlah bagiNya nyanyian baru". KEPUSTAKAAN
- Cermat, H. L. Riwayat Lagu Pilihan dari Nyanyian Pujian, Jilid 2. Bandung : Lembaga Literatur Baptis, 1983. - Douglas, Winfred. Church Music in History and Practice. New York : Charles Scribner's Sons, 1937. - Luccock, Halford E. dan Hutchinson , Paul. The Story of Methodism. New York : Abingdon Press, 1926. - McCutchan, Robert Guy. Our Hymnody. New York : Abingdon Press, 1937. - Willimon, William. Why I Am a United Methodist. Nashville : Abingdon Press.
PETUNJUK BERNYANYI
I. Pelajarilah lagu-lagu ini (dari John Wesley's Select Hymns, 1761) sebelum lagu yang lain-lain; sesudah itu silahkan belajar yang lain lagi. II. Nyanyikan lagu-lagu ini tepat seperti dikarang di sini, tanpa diubah atau diperbaiki sama sekali; dan kalau saudara sudah belajar nyanyi dengan salah, usahakan untuk memperbaikinya secepat mungkin. III. Nyanyikan semuanya. Usahakanlah supaya bersama-sama dengan jemaat saudara, anda sering-sering menyanyikannya. Jangan sampai sedikit kelemahan atau kelesuan mengganggumu. Kalau ini menjadi sesuatu beban, angkatlah, dan kamu akan menerima berkat olehnya. IV. Nyanyilah dengan penuh semangat dan dengan keteguhan hati. Sadarlah, supaya saudara tidak bernyanyi seperti orang setengah mati atau mengantuk; melainkan angkatlah suaramu dengan kekuatanmu. Nyanyilah dengan berani dan tanpa ragu-ragu, bahkan lebih berani daripada waktu dulu engkau bernyanyi waktu mabuk-mabukan. V. Nyanyilah dengan kesederhanaan atau kerendahan hati (modestly). Jangan berteriak (bawl), sehingga suaramu kedengaran lebih kuat daripada penyanyi-penyanyi lain, agar harmoni tidak menjadi rusak; tetapi berusahalah selalu mempersatukan suara-suaramu, supaya terdengar satu suara yang jernih dan merdu. VI. Nyanyilah tepat dengan ketukan yang ditentukan. Jangan nyanyi terlalu cepat ataupun lambat; tetapi tepat dengan pemimpin, dan jagalah supaya tidak terlalu lambat. Cara lambat itu cara orang malas; dan sekarang sudah waktunya untuk mengusir kemalasan itu, dan menyanyikan semua lagu-lagu kita dengan penuh semangat sama seperti dahulu waktu engkau baru bertobat. VII. Yang paling penting adalah menyanyi dengan Roh Tuhan. Lihatlah kepada Tuhan dalam setiap kata yang dinyanyikan, dengan tujuan lebih menyenangkan hati Tuhan daripada menyenangkan hatimu sendiri atau orang lain. Agar tujuan ini dapat dilaksanakan, perhatikan arti lagu yang dinyanyikan, dan jaga supaya hatimu tidak dipengaruhi oleh bunyi merdu, akan tetapi tujukanlah hatimu selalu kepada Tuhan; hendaklah engkau menyanyi sedemikian rupa supaya Tuhan berkenan, dan upahmu diberikan pada waktu Ia datang kelak didalam awan-awan sorga. Dari John Wesley's Select Hymns, 1761 Tentang Penulis: Jo Harbert asal dari Amerika Serikat dan menjadi dosen Bahasa Inggeris dan Musik di Institut Theologia Alkitabiah sejak tahun ajaran 1992-1995. Dia tamat dari University of Kansas di Amerika dengan Bachelor of Music Education di tahun 1959. Sejak itu dia melanjutkan sekolah bebrapa kali dengan jurusan Music Education, Bahasa Indonesia, Elementary Education, Adult Education dan Teaching English as a Second Language. Dari tahun 1959 sampai sekarang dia sudah mengajar di bebrapa tempat, termasuk sekolah-sekolah di Amerika dan di Indonesia . Dan pada waktu tahun-tahun 1976-1980 dia menjadi dosen Musik dan Bahasa Inggeris di Institut Alkitab di Medan. Catatan: Karangan ini pertamakali dimuat dalam BUKU KENANGAN ITA BANDAR BARU 1993 |
|