Ceramah Konta ke- XXXII Tema: Sub-tema :
PendahuluanAtas dorongan Pdt. Dr . David Rodriguez, the Board of Global Ministries (GBGM) mensponsori Konsultasi Nasional GMI di Cipayung 25-27 Maret 2002 yang lalu. Limapuluh tujuh peserta, Pendeta, Guru Injil dan Warga Jemaat hadir mendiskusikan visi dan missi GMI setelah GMI mempunyai 2 Bishop. Kemudian disepakati bersama satu visi yang diformulasikan dalam kalimat BERSATU DALAM ROH UNTUK MELAYANI BANGSA. Visi ini dijadikan tema Konferensi Tahunan kita. Untuk merealisasikan visi ini, maka ditetapkan missi yaitu: 1. Membuka jemaat baru di tiap ibukota propinsi di Indonesia 2. Berpartisipasi dalam mewujudkan Perdamaian, Keadilan dan Hak Azasi Manusia (HAM) 3. Ikut serta menjaga dan melestarikan lingkungan alam Dari 3 missi ini dirangkum menjadi satu kalimat yang menjadi Sub-tema Konta kita. Situasi IndonesiaSebagai bangsa Indonesia kita memiliki alat untuk bersatu, yaitu Pancasila yang meru-pakan dasar negara. Juga lagu yang sering kita nyanyikan Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa. Tetapi rupanya itu semua tidak sanggup benar-benar mempersatukan kita dari Sabang sampai Marauke. Indonesia sedang dicabik-cabik oleh desintegrasi, tawuran pelajar, perkelahian antar desa, kerusuhan di daerah-daerah, pertikaian dan saling bunuh antar etnis. Inilah juga yang ter-cermin dalam kancah politik antar Parpol, di mana mereka paling keras meneriakkan persatuan dan kesatuan bangsa, tetapi yang paling gigih mempertahankan simbol-simbol kebenaran iden-titasnya masing-masing. Saling menjatuhkan lawan demi langgengnya kuasa dan jabatan serta menutupi koreng sendiri sudah mentradisi. Lahirnya Gereja di dunia ini bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk dunia (Yoh 17:17 ). GMI berada di Indonesia . Karena itu GMI terpanggil untuk melayani Indonesia . GMI bu-kan gereja etnis dan juga bukan gereja bahasa, melainkan terdiri dari multi etnis dan bahasa. Jelas, bahwa etnis dan bahasa tidak dapat mempersatukan GMI. Bahkan tradisi Methodist sendiri pada prakteknya tidak dapat mempersatukan, sebab pemahaman atau persepsi yang berbeda. Yesus berdoa, memohon kepada Bapa-Nya agar kita bersatu (Yoh 17:11 , 21-23). Tantangan yang dihadapi Gereja dan BangsaAda banyak isu penting yang dihadapi Gereja dan Bangsa Indonesia dalam Dasawarsa ini. Kita melihat beberapa saja. 1. Globalisasi Isu ini luar biasa pengaruhnya dalam kehidupan setiap bangsa. Apa yang terjadi di satu belahan dunia akan berdampak di belahan dunia lainnya. Pengaruh ini bukan hanya dalam hal-hal positif dan baik saja, tetapi juga yang negatif dan merugikan. Peristiwa yang terjadi di Timur Tengah antara Israel dan Palestina, bukan hanya berdampak bagi negara-negara Arab saja, melainkan juga sampai ke Indonesia . Robohnya gedung WTC bukan saja mempengaruhi negara Amerika dan porak porandanya Afganistan yang harus menanggung akibat peristiwa tersebut, melainkan juga hampir seluruh dunia terlibat, baik secara langsung maupun secara emosonal. 2. Media Komunikasi. Ada orang berpendapat, “siapa yang menguasai komunikasi, akan dia dapat menguasai dunia”. Ini menandakan betapa pentingnya alat komunikasi. Media ini memegang peran yang sangat penting untuk menyebarluaskan informasi, pandangan atau falsafah dan juga mengo-barkan semangat atau fanatisme. Kembali GMI harus bertanya, sampai dimana kita menggunakan media ini untuk menye-barluaskan Injl perdamaian itu? Sampai berapa jauh kita menggunaan alat ini untuk menebar damai-sejahtera ke pelosok yang masih rawan peperangan dan pertikaian? 3. Moralitas dan Etika Indonesia mendapat predikat Juara Dunia dalam hal Korupsi. Perang yang dicanangkan Pemerintah terhadap korupsi hanya sebatas wacana saja. Untuk memberantasnya masih sangat jauh dari harapan. Para pemimpin dan penguasa lebih banyak melakukan akrobatik politik dan hukum. Hari ini lupa dengan perkara besar, besok ingat dapat masalah sepele. Ahli-ahli ekonomi dan pakar-pakar hukum masih lebih banyak yang mencari celah kele-mahan dalil dan hukum untuk membenarkan yang sudah nyata bersalah. 4. Kekerasan Agak berbau sinisme kalau kita mengatakan, bahwa di Indonesia sedang berlaku “Hukum Rimba”. Siapa yang kuat, dia yang menang dan hidup. Manusia bukan lagi bertanya, “Apa yang dapat saya makan hari ini?”, melainkan “Siapa yang dapat saya makan hari ini?” Keke-rasan itu terjadi mulai dari tingkat rumah tangga, lingkungan, desa, kota dan negara. Betapa mudahnya seorang anak membunuh paman atau neneknya yang tidak mau memberinya uang jajan. Sebenarnya cerita tentang kekerasan atas nama apapun sudah lama terjadi. Kita ingat Yesus disalib karena berbeda pendapat dengan para Ahli Torat dan Parisi. Gereja pernah menghukum ilmuwan karena buah pikirannya “berbeda” dengan apa yang tertulis dalam Alkitab. Apakah kekerasan harus dihilangkan dengan kekerasan? (Band. Roma 12:17-21) 5. Kesehatan (Narkoba dan AIDS) Masalah yang secara khusus disoroti kali ini adalah Narkoba dan AIDS. Berita tentang Narkoba selalu menghiasi berita dalam setiap Surat Kabar. Berita tentang pengedar, pemakai, pembeli, penjual, bahkan sudah menjadi rahasia umum, bahwa justru di tempat yang banyak aparat pemerintah, di sana bisnis Narkoba berjalan secara terselubung. Jumlah korban Narko-ba sangat mengejutkan kita. Kita tahu biasanya lebih banyak lagi korban, sebab banyak yang menyembunyikannya karena malu. Demikian juga dengan korban virus HIV. Diindikasikan peningkatan virus ini sejalan dengan peningkatan mobilitas manusia dan pariwisata di seluruh dunia. Kemudian diperparah dengan pengguna Narkoba yang memakai peralatan kotor dan terinfeksi virus HIV. Indonesia yang terletak dipersimpangan jalur dunia dan dikenal lemah dalam pengawasan tentu merupakan sasaran empuk bagi peredaran dan penyebaran kedua macam masalah ini. Siapa sangka, bahwa pabrik ekstasi terbesar di dunia berada di kawasan sempit di Tangerang? Kita harus akui, GMI belum menjamah masalah ini. 6. Kemiskinan. Terpuruknya perekonomian Indonesia , ketidak stabilan politik, korupsi, keserakahan be-berapa pejabat membuat kemiskinan merajalela di Indonesia . Pengangguran, banyaknya yang putus sekolah, pengemis dan “Pak Ogah” yang menghiasi persimpangan-persimpangan jalan menjadi bukti merajalelanya kemiskinan di Indonesia . Belum lagi timbulnya bencana alam, banjir, kemarau, gempa bumi dan kebakaran akan menambah jumlah orang miskin di Indo-nesia. Gereja walaupun bukan lembaga sosial, punya tanggng jawab untuk memerangi ke-miskinan. Sudah saatnya bukan hanya sekedar “kasih sesaat”, melainkan “kepedulian teror-ganisir” sehingga memperoleh hasil maksimal yang nyata. 7. Pluralisme Banyak masalah, tindak kekerasan, kejahatan, pertikaian, permusuhan yang lahir dari si-kap pembenaran diri secara sempit dan tidak terbuka terhadap keberadaan orang lain. Keane-karagaman bahkan mungkin ketidaksesuaian di antara kita bukanlah sesuatu yang harus di-pertentangkan, melainkan seharusnya memperkaya dan saling menjaga diri untuk berperilaku baik. Fanatisme sebagai warganegara Kerajaan Allah, atau sebagai anggota Methodist tidak harus diikuti dengan sikap fanatik. Fanatisme perlu untuk menyadarkan, bahwa kita punya keunggulan. Tetapi keunggulan itu bukan untuk dibandingkan dan merendahkan orang atau kelompok lain yang tidak sama. 8. Lingkungan Alam. Pembangunan yang tidak ramah lingkungan dan dilakukan dengan sembrono akan merusak lingkungan, yang pada akhirnya akan merugikan manusia sendiri. Pembangunan gedung-gedung dan jalan raya serta penebangan pohon-pohon dan perambahan hutan, bahkan reklamasi pantai untuk hotel dan pemukiman jelas berdampak terhadap lingkungan. Belum lagi tipisnya disiplin masyarakat dalam membuang sampah, jelas akan memperparah kerusakan lingkungan. Gereja harus mempelopori rehabilitasi lingkungan yang rusak dan ikut menjaga keles-tarian dan keasrian lingkungannya. Kita harus mulai dari hal-hal kecil, seperti bungkus per-men di bangku-bangku gereja, menanam pohon dan membuat taman di halaman gereja. Kita perlu memikir ulang pohon-pohon Natal yang dibuat dari pohon pinus yang hanya dipakai 2 minggu lalu dibiarkan mati. Pelayanan dan Pengembangan Gereja Methodist IndonesiaMissi Gereja di dunia adalah untuk melaksanakan tugas “pemuridan” (Bukan penginjilan dalam artian sempit, apalagi pengkristenan) Matius 28: 16-20. Perintah yang Yesus berikan kepa-da murid-muridnya adalah untuk menyatakan kasih. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia (Mat.22:37-39). Menyatakan kasih ini bukan hanya dengan ucapan, tetapi juga dengan perbuatan. Gereja adalah orang-orang yang tadinya ada dan dikuasai kegelapan, tetapi sudah dipindahkan ke dalam terang yang ajaib. Serentak dengan itu gereja punya tugas untuk membe-ritakan, menyatakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Allah, di dalam dunia ini.(I Pet. 2:9) Gereja ada di dalam dunia tetapi tidak menjadi satu atau menjadi sama dengan dunia. (Yoh 17: 11, 21-23) Gereja menjadi bagian dunia dalam rangka menjadi garam dan terang dunia. (Mat. 5:13-16) Menghadapi tantangan dengan permasalahan yang ada dalam negara dan bangsa Indonesia saat ini, GMI perlu dengan seksama mencermati program-programnya, sehingga menjawab tantangan jaman. 1. Konsistensi kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus merupakan syarat mutlak. Gerakan Methodisme yang dipelopori John Wesley di Inggris menekankan hal ini. Kesalehan hidup bukanlah topeng atau kepura-puraan, melainkan merupakan aliran air dari mata-air kehidupan yang bersumber dari Roh Kudus. 2. Sejak awal Methodisme sesuai dengan ajaran Alkitab yang dikemukakan John Wesley, meli-batkan kehidupan sosial jemaat. Gereja tidak hanya mengurusi kerohanian, melainkan juga segi-segi kehidupan praktis. Janganlah kita terjebak dalam dikotomi yang membuat Gereja “mandul” dalam karya nyata di dunia. Pertobatan seseorang bukan saja pertobatan pribadi, te-tapi juga pertobatan sosial. Artinya, imannya harus dinyatakan dalam kehidupan pribadi dan juga dalam masyarakat. Apakah dalam seluruh gerak kehidupan gereja sudah menyatakan pelayanan yang “holistik”, tidak parsial. Kotbah John Wesley bukan hanya mengenai kesela-matan di seberang sana saja, tetapi juga tentang “uang” tentang “pekerjaan”, “penggunaan waktu” dan lain-lain topik yang menyangkut kehidupan sesehari. Dia berbicara sederhana kepada rakyat jelata, tetapi dia juga berbicara “akademis” kepada kaum terpelajar. Gerakan Methodisme mempengaruhi sehingga perbudakan dihapuskan di Inggris. 3. Pengembangan GMI ke propinsi-propinsi hendaklah diprogramkan secara matang dan men-dalam. Bagaimana strategi dan metode menghadapi tantangan yang ada di setiap propinsi, yang pasti berbeda satu dengan yang lain. Melihat tantangan dan jumlah yang dibutuhkan untuk pengembangan tersebut, maka perekrutan pelayan-pelayan yang berkualitas, setia dan tahan uji harus benar-benar diperhitungkan. Kualitas intelektual, emosional dan kerohanian benar-benar harus diutamakan. Pembinaan dan peningkatan kualitas para pelayan yang ada sekarang menjadi kebutuhan primer. Pengembangan GMI ke propinsi-propinsi ini janganlah hanya menjadi program Pendeta/Guru Injil dan beberapa “pejabat” GMI saja, melainkan ha-rus menjadi program setiap anggota jemaat. Bukankah motto yang diungkapkan John Wesley “Setiap orang Methodist adalah Evangelist”? Ini harus betul-betul dilaksanakan. PenutupSebagai penutup kami mengajak seluruh peserta Konferensi agar dalam setiap diskusi dan mengambil keputusan, tema dan sub-tema ini menjadi arahan kita semua. Roh Kudus yang mempersatukan kita semua, yang memberi kuasa kepada kita untuk melayani bangsa Indonesia . Tuhan memberkati saudara-saudara. |
|